catatan-ku

May 20, 2005

Suatu Akhir di kaki Merapi

Filed under: Catatan-ku — intankd @ 9:06 pm

Membaca kembali tentang Soe Hok Gie, Soe Hok Gie yang mati muda di gunung Semeru, datang kepadaku ingatan pada sesosok sahabat, Agus Purwito, yang juga mati muda, mati muda di jurang kaki Merapi..

Meski hampir empat tahun telah lewat, masih terbayang saat-saat gelisah menyelubungi seluruh hati kami, saat-saat kami menyebut namamu dalam doa penuh harap kepada Tuhan, saat-saat kami tak enak makan karena terbayang engkau tersesat tanpa makanan, saat-saat kami tak nyenyak tidur karena terbayang engkau kedinginan tanpa pelindung di luar sana, saat-saat kami bertengkar karena panik dan menggelisahkanmu. Masih terbayang saat Icun menjeritkan namamu dalam duka yang sangat, saat parmini mengambil gagang telepon yang terlepas dari genggaman Icun, saat Ia berbicara sejenak dengan Irwan diujung sana, dan kemudian berkata dengan nanar, “Agus ditemukan.. dalam keadaan meninggal”. Masih terasa keterkejutan yang menghempaskan, harapan yang lenyap, dan duka yang kemudian hadir memenuhi hati kami…

Untuk pertamakalinya sepanjang ingatanku, aku menangis tak berhenti, sepanjang jalan dari Asrama Yasma Putri di Pringgokusuman menuju Kaliurang, bersama Parmini, mengendarai motor milik Sulis, ingin menemui dikau, sahabatku, sahabat kami semua di Syuhada, sahabat para ibu di Kali Code. Teringat ucapanmu tentang mereka, “Tan, alangkah manisnya senyum ibu-ibu kali Code itu, ” ucapan yang kala itu tak kumengerti, sampai kemudian kutemukan manisnya senyum seorang tua Supir bajaj di jakarta, dengan gigi ompong dan mata ikhlasnya.

Memandang tubuhmu yang membeku didalam ambulans, berbalut kantung plastik hitam yang reslitingnya terkunci sebatas dada, memandang wajahmu yang biasanya selalu penuh senyum, tawa dan semangat, melihat luka di kening dan di dagu yang mulai dikerubuti binatang-binatang kecil, ingin kunikmati saat terakhir dapat melihatmu, sebelum kantung hitam itu dirapatkan menutupi seluruh jasadmu. Apa yang kau rasakan menjelang kepergianmu Sahabat? adakah luka dikeningmu itu mengganggumu? Adakah hujan menyelubungimu dengan dingin? Adakah kesendirian menerpamu? Ataukah memang kau tlah bersiap untuk tidur yang panjang ini? Mereka bilang padaku, kau ditemukan dalam posisi berbaring tenang diatas ponco milikmu, dengan tangan terlipat di dada, dengan sepatu dan kaus kaki terbuka dan terletak rapi disampingmu, seolah-olah memang kau siapkan dirimu untuk beristirahat. Tapi, sebelah kaus kakimu masih terpasang dikakimu. Apakah Kau begitu kesakitan setelah terjatuh ke jurang sempit namun dalam ini, sehingga tak mampu lagi untuk membukanya? Akankah bila kau ditemukan lebih cepat, masih akan kau tertawa bersama kami, mengucapkan kalimat, “gimana, ada masalah?”, dan menutupnya dengan, “tetap semangat!”

Inilah kematian yang menguras airmataku sebanyak ini. Sejak kepergianmu, bagiku kematian bukan lagi sekedar angka di lembar koran atau pembacaan berita. Ada sesuatu dibaliknya. Ambulans bukan lagi sekedar kendaraan yang lewat tak berarti, namun terasa olehku, ada orang-orang yang gelisah, yang berharap, menunggu, berdoa, berduka, dibaliknya. Aku jadi lebih menghargai duka, lebih menghargai perpisahan dan kesedihan, lebih dapat berempati. Teoriku dulu tak berlaku sama sekali: “mengapa harus bersedih dengan kematian? Sesungguhnya tangisan karena kematian adalah menangisi diri sendiri yang masih hidup, mengkhawatirkan masa depan diri sendiri yang akan hidup tanpa si mayit”. Tapi aku tak yakin dengan itu sekarang, Gus. aku menangis dengan kepergianmu, yang aku tak dapat definisikan sebabnya. Karena tak akan ada lagi dirimu dalam hiruk pikuk kehidupan Masjid Syuhada kita? Atau karena membayangkan kesendirianmu di dasar jurang sana? Atau karena doa dan harapan atas keselamatanmu setelah kau menghilang tiga hari tak terpenuhi? Atau karena semua orang juga menangis? atau apa? Sudahlah, sedih ya sedih aja, tidak perlu ada alasan untuk itu.

Mengamati penuhnya Masjid Syuhada kita dengan orang-orang yang ingin melihatmu, mendoakanmu, mensholatkanmu, mengiringimu hingga ke rumah terakhirmu, kuharapkan berkah dan ampunan Tuhan untukmu, kuharapkan ridhoNya bersamamu. Mereka datang bukan cuma pada hari ketika engkau ditemukan, Gus. Mereka sudah datang sejak engkau tiada kabar. Semoga do’a mereka memudahkan langkahmu, semoga airmata mereka tak memberatkanmu. Setitik tanya dihatiku, adakah akan sebegini banyak pula orang yang akan mendoakan aku ketika berpulang? Ipeh mengungkapkan hal yang sama padaku waktu itu.

Kita akan bertemu lagi teman, entah kapan waktunya. Yang jelas, bertemu denganmu dalam mimpi sudah membuat aku lega. Kita bersama sahabat yang lain sholat berjamaah, dengan engkau sebagai imam, dengan baju koko yang rapi dan bersih. ketika kutanya, “Agus, kamu kan udah meninggal?” kamu jawab, “tidak, saya tidak meninggal”.

Yah, sesungguhnya mereka hidup disisi TuhanNya.

jakarta, 12 mey 2005

love Yogya and Syuhada

4 Comments »

  1. Sy…sbg adik ikut trima kasih atas smua yg tlah diberikan sm kakak sy agus purwito…salam dari kami keluarga di Madiun…

    Comment by Anang kairul anwar — January 3, 2013 @ 8:14 am | Reply

  2. Mas Anang, terimakasih kembali, dan terimakasih telah membaca tulisan ini. semoga Allah menempatkan Almarhum Agus Bersama orang-orang saleh di sisiNya. salam takjim kami juga buat keluarga di Madiun. apakah Bapak Ibu masih ada dan sehat?
    salam,
    intan

    Comment by intankd — January 3, 2013 @ 4:17 pm | Reply

  3. Agus purwito, sahabat saya selama 2 tahun ketika sekolah di madiun. Selepas pindah ke kota lain, saya kehilangan jejak dia. Setahun lalu, ketika bisa berkumpul kembali di dunia maya dengan rekan ketika sekolah di madiun, yang pertama saya tanyakan adalah info tentang agus. Betapa sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa dia telah dipanggil Sang Maha Kuasa. Saya hanya bisa mengingat ingat kembali masa masa di madiun, ketika rumah kami berdekatan, masa masa ketika setiap hari berangkat sekolah selalu bersama sama, baik bersepeda maupun berjalan kaki. Bagi saya, persahabatan dengan agus purwito merupakan kenangan yang melekat, bahkan hingga saya pindah dari madiun.
    Namun Allah SWT berkehendak lain. Manusia hanya bisa menerima apa yang sudah menjadi takdir Nya, dan kita semua berharap takdir itu yang terbaik untuk Agus Purwito.
    Selamat jalan sahabatku…

    Comment by Wibowo-WOKY- Nugroho — July 19, 2016 @ 10:02 am | Reply

    • almarhum memang begitu baik dan penuh perhatian, terutama pada kaum terpinggirkan..semoga Allah menempatkannya di surga bersama orang-orang saleh, alfatihah ma’a shalawat..

      Comment by intankd — October 19, 2016 @ 10:27 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: