catatan-ku

March 6, 2018

Dibalik Ambulans

Filed under: Ketika Ibu sakit — intankd @ 12:23 am

Aku tersentak ketika pak Syafrie membunyikan sirine. Seolah baru tersadar bahwa aku berada di dalam ambulans. Bertambah kesadaranku ketika memandang ibu yang terbaring di dipan di depanku. Ini bukan perjalanan biasa. Ini perjalanan penuh harapan. Perjalanan menggapai kesembuhan.

Sirene ambulans pun meraung membelah pagi. Kendaraan-kendaraan lain segera menepi memberi ruang. Dulu, hanya itulah arti ambulans bagiku. Kendaraan yang harus didahulukan oleh pengguna jalan yang lain.

Sampai semua jadi berbeda di suatu sore. Sore yang pucat bagai wajah perawan yang meriang. Ketika kami memandang wajah seorang sahabat untuk terakhir kalinya. Sebelum kantong jenazahnya kemudian ditutup. Dan ia dibawa turun dari kaki Merapi dengan ambulans.

Saat itu aku tersadar, ambulans bukan sekedar kendaraan biasa. Ia membawa tangisan dan terkadang menciptakan kehilangan. Sejak itu aku faham, ambulans bukan sekedar kendaraan biasa. Ia membawa ketergesaan, membawa cemas, harapan, dan juga do’a.

Sejak itu aku selipkan do’a setiap kali ambulans melintas. Shalawat dan alfatihah untuk mereka yang di dalamnya. Dan kali ini, kiriman shalawat dan alfatihah aku harapkan untuk ibuku.

Advertisements

March 4, 2018

Bukan Tak Rindu (2)

Filed under: Ketika Ibu sakit — intankd @ 12:44 pm

“Papa di sana aja dulu ya. Nanti kesininya kalau saya sudah dapat jadual operasi aja. Ini intan masih bolak balik ngantarin saya ke rumah sakit. Nanti papa ditinggal sendiri di rumah.”

Aku tak mendengar apa jawaban ayah di ujung telepon. Tapi aku yakin beliau hanya akan mengiyakan. Ayah cenderung diam. Kalaupun tak setuju, akan menyimpannya di dalam hati. Apalagi dalam kondisi beliau sekarang ini.  Hanya bisa duduk di kursi roda. Tergantung sangat pada orang lain.

Ibu tak tahu kalau kekasih yang sedang ditelponnya itu baru saja pulang dari perawatan di rumah sakit. Dua hari setelah tiba kembali di Banda Aceh untuk suatu urusan yang tidak bisa diwakilkan, kondisi ayah tiba-tiba sangat menurun. Adikku bergegas membawa beliau ke rumah sakit. Hanya sebentar di IGD, tim medis memindahkan beliau ke ICU. Alhamdulilah 3 hari kemudian kondisinya membaik, sehingga bisa pindah ke kamar rawat inap. Dan dua hari kemudian, diizinkan pulang.

Kami memang tidak memberi tahu ibu. Melepas ayah kembali pulang ke Banda Aceh saja sudah berat buatnya. Siapa yang mengurus papa? Bagaimana makannya? Bagaimana tidurnya? Semua jadi pikiran ibu. Walau ia sendiri tak berdaya di tempat tidur. Kami tak ingin menambah susah hatinya. Kami ingin hatinya tenang. Kami ingin ia sehat dalam menjalani pemeriksaan pra-operasi, dan nantinya siap masuk ke ruang operasi.

Alhamdulilah pemeriksaan pra-operasi ibu berjalan lancar. Hasilnya baik. Dokter spesialis Paru, Jantung, Penyakit Dalam, dan Anestesi, memberikan lampu hijau untuk ibu maju ke meja operasi. Pencabutan implant dan pemasangan bone bracer. Jadual pun sudah ditetapkan. 6 Maret 2018. Semoga Allah mengizinkan.

Sayangnya, kondisi ayah kembali menurun. Tiga hari di rumah, beliau harus kembali dilarikan ke Rumah Sakit. Kali ini, tak bisa lagi kami sembunyikan dari ibu. “Mama berhak tahu,” kata kakak iparku. “Jangan sampai nanti mama malah marah sama kita. Lebih buruk nanti jadinya.”

Dan memang tak bisa kami sembunyikan lagi. Kali ini, ayah butuh perawatan yang lebih lama di rumah sakit. Dengan Whatsapp video call, mama bisa melihat papa yang terbaring lemah dengan selang  yang terpasang untuk membantu pernapasannya.

“Papa cepat sehat yaaa,” kata ibu. Ia menahan tangisnya melihat kondisi ayah.

“Iya, mama Sayang. Nanti saya sehat dan nemani mama operasi ya,” kata papa lemah.

Ibu tak sanggup lagi. “Sudahlah Nak, cukup teleponnya. Kasihan papa, capek ngomongnya.”

Telepon ditutup. Dalam hati, aku mulai menghitung hari. Berharap ayah sudah cukup sehat sebelum tanggal 6 nanti. Agar ia bisa tiba di sini menguatkan kekasih hati. Operasi kali ini, memang butuh kesiapan lebih. Ini akan lebih sulit dari operasi pertama, pemasangan implant (Total hip replacement) sebelumnya. Lebih sulit dari operasi debridment yang sudah 2x dijalani ibu setelahnya.

Alhamdulillah papa kemudian sudah boleh pulang tanggal 2 Maret 2018. Namun begitu, kondisinya masih belum menjanjikan. “Tolong kasih tahu mama kalau papa ga bisa cepat-cepat ke Jakarta ya,” katanya lemah, nyaris menyerah.

Dengan hati-hati kusampaikan pada ibu. Ia tersenyum, menutupi cemas di hatinya.

“Mama pasrah Nak. Kalau papa bisa datang, mendoakan mama sebelum masuk ruang operasi, mama bersyukur.”

Ia diam sejenak. “Mama memang pengen, sebelum masuk ruang operasi, bisa cium tangan papa, bisa minta maaf sama papa. Tapi kalau papa belum sehat, jangan dipaksakan. Jangan nanti papa malah tambah sakit. Mama mau, papa betul-betul sehat, baru datang kemari.”

Aku mengangguk. Lega. “Kita mengharapkan yang terbaik, tapi tetap harus siap dengan kemungkinan terburuk ya ma.” Ibu mengangguk. Kupeluk bahunya dan ku cium pipinya. Dalam hati, aku masih menyimpan harap, ayah bisa kemari. Bukan cuma demi ibu, tapi demi ayah sendiri.

March 1, 2018

Pijatan Untuk Ibu

Filed under: Ketika Ibu sakit — intankd @ 10:55 pm

“Kalau bukan karena sakit, mungkin mama ga akan pernah merasakan pijatan Intan ya.”

Aku tertegun.

“Semua sudah ada yang mengatur,” lanjut ibuku. Ia tersenyum. Memandangi aku yang kembali mengoleskan balsem ke kakinya. Kali ini kaki kanan. Dan melanjutkan pijatanku.

41 tahun usiaku. Kulewatkan tanpa pernah sekalipun memijat ibuku. Bagaimana bisa? Pikirku galau.

“Waktu kalian kecil, mama selalu tidur belakangan,” kata ibuku, seolah bisa membaca pikiranku. “Setelah kalian besar, mama yang jatuh tertidur sebelum kalian.”

Aku masih diam. Hanya jari-jari ku yang terus bergerak. Mencoba menghilangkan pegal yang dirasakan ibu, karena kedua kakinya nyaris tak bergerak seharian. Ah, andai aku sekuat Samson-nya Delilah, akan kugendong ibu kemana saja ia perlu melangkah. Kenyataannya, jauh panggang dari api.

Aku tahu, ibu bukan sedang menyalahkan aku. Ia hanya sedang berusaha menerapkan nasehat seorang ustadz kepadanya, untuk membiarkan anak-anaknya merawat dan membantunya, terutama ketika ia sedang sakit seperti sekarang. Tidak mudah baginya. Ia merasa menjadi beban. Ia merasa menyusahkan.

Tiba-tiba putri kecilku mengetuk pintu. “Mama, kakiku pegal. Karena tadi waktu olahraga disuruh begini sama kakak guru,” katanya sambil memperagakan gerakan yang dimaksud.

“Jadi mau dipijat?” tanyaku.

“Iya,” angguknya.

“Ya sudah, sini naik ke dekat nenek,” jawabku. Zahra mengambil tempat di dekat neneknya. Kedua kaki diselonjorkannya ke arahku. Dengan tangan kanan, kupijat kakinya. Tangan kiri masih setia memijat kaki ibuku.

“Tapi sebenarnya aku lebih suka dipijat papa,” kata Zahra.

“Lebih enak?” tanyaku berkecil hati.

“Iya,” katanya jujur. “Gimana ya, cara papa mijatnya. Aku lupa. Nggak bisa ngasih tahu mama.”

Aku menyerah. “Ya sudah, nanti minta dipijat sama papa aja ya kalau papa sudah pulang. Tapi…dulu waktu kecil, mama lho yang mijatin kakek,” kataku.

Dulu waktu seumur Zahra, aku memang sering memijat ayahku. Dan beliau selalu memuji pijatanku. Maka aku tumbuh jadi anak yang PD bahwa jari-jariku ini pandai memijat. Sampai kemudian aku menikah dan menemukan kenyataan pahit (Duh!). Suamiku tertawa ketika aku memijatnya. “Gak terasa,” katanya. Haaaa?? Bagaimana bisa?? Tak percaya rasanya. Hancur berkeping-keping kebanggaan dan harga diriku sebagai tukang pijat ayah.

“Kalau begitu, aku saja yang dipijat,” kataku sebal. Dan olalaaa… ternyata, pijatan suamiku jauh lebih enak dari tukang pijat manapun yang pernah kucoba. Maka tak ada pilihan lain. Aku ikhlas, pasrah dan tidak protes dengan penilaiannya. Dan Aku mulai mengerti, bahwa pujian ayahku dulu, mungkin diberikan untuk menyenangkan hati putri kecilnya. Dan nyatanya, aku memang senang. Ingin memijatnya lagi. Lagi dan lagi.

Dan aku melupakan ibuku. Tak pernah aku memijat tangannya yang lelah menyiapkan makanan dan menjahitkan pakaian untukku. Tak pernah aku memijat kakinya yang melangkah kesana kemari mengurus keperluanku. Tak pernah kupijat pundaknya yang menanggung beban berat putra-putrinya.

Ah, ibu, maafkan aku. Dan ketika sekarang kupijat kakimu, adakah membantumu menjadi lebih nyaman?

Tiba-tiba aku ingin sekali, ingin bisa menjadi tukang pijat yang handal untuk ibuku.

February 20, 2018

Bukan Tak Rindu

Filed under: Uncategorized — intankd @ 2:53 pm

PMTOH_httpimotorium.com20160424profil-dan-sejarah-fa-pmtoh-bus-asal-aceh-dengan-trayek-terjauh-yang-eksis-hingga-kini

“Bahagia itu sederhana, berkumpul bersama keluarga.”

Begitu keterangan foto yang dikirimkan seorang teman ke salah satu grup whatsapp yang aku ikuti. Foto seorang presenter terkenal bersama keluarganya. Tersenyum bahagia. Aku pun tersenyum. Berkumpul memang membahagiakan. Tapi apa iya sederhana? Bukankah tidak semua keluarga selalu bisa berkumpul? Seperti aku dulu.

“Kamu nggak mudik?” begitu dulu pertanyaan salah seorang teman kuliahku. Wajah terkejutnya membuatku tidak nyaman. Seolah-olah aku melakukan kesalahan besar.

“Iya, nggak mudik,” jawabku.

“Wah, buat kami, berkumpul di hari lebaran itu ya harus. Semuanya akan dikorbankan untuk bisa mudik,” sambungnya.

Aku diam. Hatiku kecut. Merasa dituduh sebagai anak tak berbakti, tak pulang ketika lebaran menjelang. Ah, aku terlalu perasa. Ia mungkin tidak bermaksud menyalahkan aku. Ia hanya heran dan terkejut. “Ada ya, orang yang ga pulang waktu lebaran?”

Aku bukan tak tahu, pentingnya berkumpul. Aku bukan tak rasa, bahagianya berkumpul. Tapi keadaan setiap keluarga tak selalu sama. Hatiku haru mengingat ucapan ibu, ”Mama rela Intan gak pulang kalau mama meninggal.” Kalimat yang diucapkan dengan menahan luapan rasa, menyadari ia mungkin tak bisa mengirimi aku uang untuk pulang. Sekaligus menjadi bukti, bahwa ibu akhirnya mengizinkan aku pergi lebih jauh. Ke Yogya. Kuliah.

Maka aku pun menyiapkan mental untuk tak pulang sampai lulus, sebagaimana ibu menyiapkan mental untuk tak melihatku lama. Aku menguatkan hati di depannya, sebagaimana ia tak menangis ketika meninggalkankanku sendiri di Yogya. Tanpa tau kapan ia bisa datang kembali. Tanpa tahu apakah ia bisa mengirimi aku ongkos pulang.

Tapi ibu adalah ibu. Ia tak pernah menyerah pada kerasnya hidup. Serupiah demi rupiah ia kumpulkan dengan teguh. Hingga setelah 2 tahun, cukup untuk membeli tiket Yogyakarta – Kutacane dan sebaliknya. “Pulanglah libur panjang ini,” isi suratnya. Hatiku meluap oleh rasa gembira. Perjalanan pulang 3 hari 3 malam di liburan semester genap, aku tempuh tanpa merasa lelah. Tentu tanpa membawa oleh-oleh apapun. Yang penting, kumpul.

Kelak aku tahu. Walau tegar berpisah, ibu memasang tekad di hatinya. Ia harus bisa memanggil pulang anaknya setelah 2 tahun. Bukan, bukan karena rindu semata. Tapi karena ia perlu melihat dengan mata kepalanya sendiri, apakah anak yang ia kirim jauh dari rumah, masih menjaga nilai-nilai yang ia tanamkan dari rumah.

Begitulah. Tidak sedikit keluarga yang harus hidup terpisah. Mungkin karena pekerjaan, menuntut ilmu, orang tua sakit, dan lain sebagainya. Mereka harus mencari cara bahagia yang lain, bukan?

Note: Foto dari http://imotorium.com/…/profil-dan-sejarah-fa-pmtoh-bus-asa…/

February 19, 2018

Cermin

Filed under: Ketika Ibu sakit — intankd @ 3:02 pm

Wajahnya tak ramah. Pertanyaanku dijawab dengan enggan. Geraknya tanpa gairah, menyodorkan berkas pendaftaran ibu ku. Mungkin hidupnya tak bahagia, pikirku iseng. Ah, tidak. Mungkin hanya pekerjaannya yang terlalu berat. Sebelum pikiranku melantur jauh, buru-buru aku mengambil ‘cermin’. Tampaklah, aku sendiri tak selalu ramah pada orang-orang yang harusnya kulayani dengan baik di pekerjaan ku.

Untunglah suster di poliklinik ramah. Dokternya juga ramah. Berikutnya, kasirnya juga ramah. Ohya, satpam di depan pintu tadi juga ramah. Bahkan membantu aku mendorong kursi roda ibuku.

Mungkin keramahan belum menjadi standard di sini. Masih tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi masih OK lah. 4 banding 1 statusnya, sampai saat ini. Masih ada 2 dokter spesialis yang harus ditemui hari ini. Mudah-mudahan lancar dan baik hasilnya. Shalawat!

February 17, 2018

Bercerita

Filed under: Catatan-ku — intankd @ 3:09 pm

Aku suka membaca. Dan suka menceritakan kembali apa yang kubaca. Kuanggap ini kelebihanku. Karena dengannya, aku selalu dikelilingi oleh teman-teman ku. Mengelilingi dalam arti harfiah. Alias sebenar-benarnya. Itu waktu SD. Berlanjut sampai SMP. Setiap jam istirahat, teman-teman akan mengelilingi bangkuku. Dan aku mulai bercerita.

Apa saja bisa kuceritakan. Semua yang kubaca. Cerita dari majalah Bobo, misalnya. Bahkan cerita dari buku karangan Kho Ping Ho. Yang jumlah halamannya ratusan, tokoh yang begitu banyak, nama-nama yang tak biasa, dan alur cerita yang rumit. Semua bisa kuceritakan dengan detil. Dan teman-temanku terpukau mendengarkan. Aku senang. Mereka senang.

Aku juga jadi terbantu dalam pelajaran sekolah. Setiap kali membaca buku pelajaran, aku berusaha menceritakannya kembali. Baik kepada teman, di depan kaca, atau di dalam hati saja. Dengan cara ini, aku bisa menguji sendiri pemahaman ku. Bila belum bisa cerita, belum faham, aku akan membaca ulang.

Setelah menjadi ibu, kemampuan ini kugunakan untuk mengikat hati anakku. Sebagai ibu pekerja, aku tak bisa bersamanya sepanjang waktu. Momen apa yang bisa mengikat dirinya denganku? Memberinya ASI, sudah pasti. Tapi kemudian ia menyapih dirinya sendiri di usia 3 tahun. Aku sempat gamang. Masihkah ia terikat padaku?
Alhamdulillah, tak sia-sia aku membacakannya buku menjelang tidur, semenjak bayinya. Rutinitas ini terus berlanjut, menjadi momen manis pengikat ia dan aku setiap malam. Ia tak kan tidur sebelum kubacakan buku.

Di usia TK nya, ia sudah bisa membaca. Aku senang, tapi juga kembali gamang. Masihkah ia menarik tanganku dan meletakkan buku di pangkuanku untuk kubaca? Ternyata, sesi menjelang tidur malah semakin menarik. Ia yang membacakan buku untukku. Aku duduk manis mendengarkan. Kalau ia sudah mengantuk sekali, kembali aku yang membacakannya buku.

Tapi aku tahu, waktu akan terus berputar. Tak selamanya putriku akan ada di sampingku, untuk mendengarkan aku membaca atau bercerita. Maka aku ingin menulis. Agar aku tetap bisa bercerita. Pada teman-teman di luar sana. Semoga ada manfaatnya. Insya Allah.

February 11, 2018

Kaki Ibu

Filed under: Ketika Ibu sakit — intankd @ 3:34 pm

Ibuku memindahkan kaki kirinya sedikit demi sedikit. Setiap inchi gerakan meningkatkan rasa nyeri yang dideritanya. Aku memandangnya iba. Kedua tangannya berusaha mengangkat betisnya, meletakkannya di posisi yang lebih nyaman di tempat tidur. Bagai kaki itu bukan bagian dari tubuhnya. Tak bisa bergerak sendiri. Tapi tentu saja kaki itu bagian dari dirinya. Terbukti dari begitu aktifnya ia mengirim sinyal rasa sakit nyaris tak tertahan. Tak jarang, ibu terbangun dari tidur malamnya. Tersentak. Rasa nyeri datang bagai petinju yang mengirimkan pukulan ke paha dengan tiba-tiba.

Betapa ‘aneh’nya ujian Tuhan. Kaki ibu yang selalu aktif kini dipaksa untuk berhenti. Kaki yang telah membawa ibu melangkah jauh dari tanah kelahirannya. Bahkan sejak ia masih kecil. Kaki yang tanpa ragu menapaki jalanan di setiap kota tempatnya merantau. Kaki yang dulu mengayuh sepeda dalam hujan, demi mengantarkan abangku yang sakit ke dokter. Kaki yang mengendarai motor, memboncengkan ayahku ke rumah sakit. Kaki yang belajar menginjak rem mobil di usia senja, demi bisa membawa ayahku dan kursi rodanya ke masjid. Kaki yang patuh melangkah membawa ibuku kemana ia hendak pergi. Kini, ia tak mampu menjalankan perintah. Ia mengurung ibuku di dalam rumah. Di dalam kamar. Di tempat tidurnya.

Ah, harus tetap semangat. Berharap pada kemurahan Allah. Besok ke dokter lagi. Semoga ada kabar baik darinya. Kesembuhan dapat ditempuh tanpa operasi pencabutan implant. Amin ya Allah..Shalawat!

January 31, 2018

Super Moon

Filed under: Celoteh Zahra — intankd @ 9:47 pm

super blood moon by zahra

Super Blood Moon Jepretan Zahra dari teras rumah. Lebih besar captionnya daripada Super Moon nya 😂

January 30, 2018

Ibu dan Anak

Filed under: Celoteh Zahra — intankd @ 2:44 pm

judul komik zahra

Ketika mamanya sedang berhenti mengejar deadline menulis buku, anaknya semalam datang menunjukkan 5 judul komik. “Mudah-mudahan bisa masuk KKPK, ma,” katanya semangat. Semangat yang disuntikkan oleh guru sekolahnya. Semangat yang menghasilkan satu komik sebelum tidur.

“Kok kecil-kecil siy kak gambarnya?”

“Nanti kan bisa diperbesar sama KKPK nya, ma,” jawabnya.

Mamanya diam. Malu. Bisanya kok protes aja. Semoga tak menerbangkan semangat anaknya.

Tak sabar menunggu komik berikutnya. Lihat judul-judulnya. Menarik bukan?

1. Mencari Putri Duyung
2. Kebanyakan Make-up
3. Hari Orangtua
4. Hewan Peliharaan Baru
5. Dunia Permen

Mamanya berdo’a semoga ada yang bisa diterima oleh KKPK 🙂.

January 29, 2018

Nenek dan Cucu

Filed under: Celoteh Zahra,Ketika Ibu sakit — intankd @ 8:45 pm

Do’a nenek setelah makan siang dan minum obat, “Ya Allah, jadikanlah makanan dan obat ini sebagai tentara-tentara untuk melawan penyakit hamba. Hamba rindu bisa berkumpul bersama keluarga, bisa duduk di meja makan menunggu cucu pulang sekolah.”

===

Kata Zahra, selesai sholat isya dan berdo’a untuk kesembuhan nenek, “Ma, kasihan ya nenek.”

“Kasihan kenapa?”

“Ga bisa nonton TV lagi. Bisanya cuma nonton Youtube di HP. Kan ga seru.”

Ah, keduanya saling merindukan. Untuk bisa duduk bersama di ruang tengah. Makan dan nonton bersama. Sudah beberapa hari ini nenek tak sanggup melakukannya.

Segera sembuh ya Nek..Zahra rindu… Semua cucu nenek rindu…

Next Page »

Blog at WordPress.com.