catatan-ku

December 26, 2015

Jangan Buang Aku

Filed under: Renungan — intankd @ 5:32 pm
Tags:

“Kakak bungkus aja ya dek, sambalnya, disana nanti susah makanan”, begitu kata ibu pemilik warung, yang membuatku malu. Walau hanya makan dengan nasi putih, sepotong ikan goreng dan sambal merah, makanan ini terasa nikmat benar olehku. Terutama setelah berhari-hari aku hampir-hampir tak bisa makan sedikitpun, memikirkan keluarga dan kerabatku yang waktu itu belum jelas nasibnya. Begitupun, sambalnya tak bisa kuhabiskan. Dan aku merasa ‘bangga’ dapat menghabiskan sepiring nasi putih dengan ikannya dan tak kasihan pada sambal yang tersisa. Ucapan pemilik warung itu yang kemudian dengan sigap membungkus sisa sambal dari piringku terasa menusuk hatiku. Mengapa aku membuang-buang makanan, sementara ribuan orang di sana pasti sedang kesulitan makanan?

Kami sedang singgah di warung makan dalam perjalanan menuju Banda Aceh, menjemput saudara-saudara dan kerabatku. Di warung itu hampir tidak ada apa-apa. Hanya ada nasi putih, ikan goreng dan sambal. Aku berharap bisa membeli yang lebih baik dan lebih banyak, tapi yah, apa yang kamu harapkan dari daerah bencana? Pemilik warung tidak mengizinkan aku membeli sebanyak yang ku mau. “Berbagi sama yang lain ya Dek,” katanya.

Dan begitulah, terselip rasa malu di hatiku ketika akhirnya aku berhasil menjumpai sepupu-sepupuku yang sedang berada di tempat pengungsian di bandara Sultan Iskandar Muda, dan hanya dapat memberi mereka beberapa nasi bungkus berisi nasi putih, sambal dan sepotong kecil ikan goreng. Namun penerimaaan dan rasa terimakasih mereka membuatku terharu. “Alhamdulillah, makasih ya Tan, udah berhari-hari kami ga jumpa nasi, cuma makan indomie saja,” kata sepupuku sambil memelukku.

Aku mengajak mereka ikut denganku, meninggalkan kota ini. Namun mereka menolak. Dan aku mengerti. Dan aku merasa kecil di hadapan mereka. Mereka datang dari Yogya untuk mencari ayah bundanya, dan terdampar di bandara ini, tidak bisa masuk kota. Namun kehadiran mereka di sini sungguh membawa manfaat bagi para pengungsi lain. Mereka membawa barang-barang bantuan, menghibur para pengungsi, dan bahkan membuka posko kesehatan karena salah satunya adalah mahasiswa kedokteran. Ah, Pakcik dan Makcik yang mulia, telah berhasil kalian mendidik sepupu-sepupuku menjadi orang-orang yang memperhatikan dan mencintai sesama, bahkan di saat mereka sendiri sebenarnya begitu, begitu susah hati memikirkan keberadaan kalian.

“Kakak tahu, begitu hausnya kami di tempat pengungsian, sampai ketika ada orang membuang botol aqua yang sudah kosong, orang-orang berebut mengambil botol itu, berharap masih ada setetes dua tetes yang dapat menghilangkan dahaga mereka.” Aku memandang wajah adikku. Wajah yang kemarin ku takut tak kan dapat kulihat lagi. Kupandangi keponakanku, yang telah berhari-hari, jangankan bisa minum susu, air putih pun belum tentu. Ya Allah, telah Kau beri kami kesempatan untuk kembali bertemu dan  berkumpul, kesempatan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang lain saat ini. Kesempatan yang tentunya bukan untuk sia-sia belaka.

26 Desember 2015. Sebelas tahun telah berlalu. Begitu banyak pelajaran yang kuperoleh dari tsunami 2004. Namun aku menggigit bibir ketika mengetik ini, dan kembali merasa malu. Bahkan pelajaran yang paling mudah pun, untuk tidak membuang-buang makanan, masih belum berhasil kuresap. Makanan, yang begitu berharga bagi mereka di tempat lain, masih juga sering tersia-sia, disini. Ampuni aku, Tuhan.

#MengenangTsunami2004.

AlfatihahMa’aShalawatUntukMerekaYangKembaliPadaAllahPadaWaktuItu.

 

November 16, 2015

Manusia Dari Batu?

Filed under: Celoteh Zahra — intankd @ 6:37 pm
Tags:

Percakapan dalam mobil, ketika Zahra melihat tumpukan bebatuan di pinggir jalan.
Zahra: Ma, batuan itu sebenarnya dari mana siy asalnya
Mama: Dari Magma, Kak
Z: Magma itu apa?
M: Magma itu seperti Lava yang kakak pernah lihat. Kalau masih di dalam bumi, namanya magma. Kalau udah di permukaan bumi, namanya lava. Panaaaas bangeeet. Nanti kalau magmanya mendingin, jadi batu. Nanti lama-lama batunya lapuk, berubah jadi tanah. Bisa ditanami, deh.
Z: Jadi tanah itu asalnya dari batu?
M: Iya
Z: Jadi manusia itu asalnya dari batu, dong.
M: Lho, kok bisa?
Z: Ya, kan katanya manusia diciptakan dari tanah. Tanah dari batu. Berarti Manusia dari batu.
M: Eh, iya juga ya Kak.. (Kok mama ga mikir kesitu ya?)

April 24, 2015

Ibuku dan Semangatnya

Filed under: Uncategorized — intankd @ 1:35 pm

Usia ibu 50 tahun ketika ia mengabarkan aku bahwa ia baru saja membeli sebuah motor matic. Aku terdiam, dalam ketakberdayaan sekaligus kekaguman. Aku tahu di masa mudanya Ibu bisa mengendarai motor. Waktu aku kecil, ibu yang mengajari abangku naik motor, menggunakan motor ayahku. Dan itu motor besar, yang biasanya dikendarai oleh laki-laki. Maka ibu mengajari abangku di subuh buta, ketika jalanan belum ramai dan tidak banyak yang melihat ia mengendarai motor itu. Tapi itu sudah lama sekali. Sudah lama ibu tak mengendarai motor sendiri, dan kini ia hendak memulainya lagi, di usianya yang tidak   muda lagi.

“Motor matic ini gampang pakainya. Cuma perlu gas dan rem saja,” kata ibuku, seperti bisa membaca kekhawatiranku di ujung telepon. Aku tersenyum. Aku tentu tak bisa melarang. Siapa yang bisa melarang ibuku kalau ia sudah punya tekad? Bahkan abangku juga tidak, walau mungkin ia beresiko dianggap tidak berbakti oleh teman dan kerabat di kota kecil kami, yang akan melihat ibuku di usia tuanya malah mengendarai motor sendiri. Toh kami tidak punya solusi lain yang lebih baik. Sejak ayahku terserang stroke yang pernah melumpuhkan sebelah tubuhnya, ia tak lagi bisa mengendarai motor sendiri, walau kini sudah bisa berjalan dibantu tongkat. Maka ayah perlu orang lain untuk mengantarnya bepergian, ke rumah sakit, ke tempat pengobatan alternatif, ke masjid, atau sekedar jalan-jalan menghibur hati. Dan siapa yang bisa melakukannya dengan setia selain ibuku? Tiga anak-anaknya termasuk aku, tinggal jauh di luar kota. Abang memang tinggal sekota dengan ayah dan ibu, namun tugas-tugasnya di kantor dan organisasi/LSM membuatnya tak bisa setiap saat hadir disamping ayah ibu.

Dan nyatanya aku memang tidak perlu khawatir. Dengan cepat ibu sudah menguasai motor matic-nya. Ibu memang sigap dan cepat belajar. Ah, hidup memang berputar. Dulu ayah yang membonceng ibu, sekarang ibu yang memboncengkan ayah.

Dan usia ibu 60 tahun ketika mengabarkan aku bahwa beliau sekarang belajar menyetir mobil. Belajar menyetir mobil untuk pertama kalinya. Kenapa? Ya, kenapa tidak? Ayah kini tak lagi bisa dibonceng dengan motor. Bukan saja karena beliau kehilangan salah satu jempol kakinya akibat penyumbatan pembuluh darah yang parah dikaki, tapi juga karena otot ayah memendek dan kaku, sehingga tak lagi bisa digunakan untuk berjalan. Ayahku berteriak kesakitan ketika perawat mencoba meluruskan kakinya dalam sesi fisioterapi. Ayahku, yang biasanya sangat tabah dan tak pernah mengeluhkan rasa nyeri yang dideritanya selama sakit, walau nyeri itu membuatnya tak bisa tidur berminggu-minggu hingga semakin menurunkan kondisinya. Teriakan itu menghantam hati ibuku dan membuatnya lemas dan gemetar. Tahulah ibu, ayah tak lagi bisa berjalan. Tak lagi bisa dibonceng di atas motor. Dan ibuku memutuskan untuk belajar menyetir, agar bisa mengantar ayah kemana-mana dengan mobilnya. Seperti hari itu, setelah memarkir mobil di halaman rumah sakit, ibu turun dari mobilnya, membuka bagasi, mengeluarkan kursi roda, membuka lipatannya, mendorongnya ke sisi kiri mobil, membuka pintu depan kiri mobil, lalu membantu ayahku keluar dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Orang-orang yang melihat langsung tergopoh-gopoh mendekat hendak menolong. “Nenek, kenapa ga bilang-bilang kalau bawa kakek? Biar kami bantu,” kata mereka. Ibuku hanya tertawa.

Dan begitulah, orang-orang di kota kecil kami, yang nyaris mengenal semua penduduk kotanya, kemudian terbiasa melihat ibuku bepergian dengan mobil sedannya, dengan ayahku disampingnya. Pemilik toko, petugas rumah sakit, polisi lalulintas, mejadi hapal dengan ibuku. Ibuku, yang belajar menyetir pertama kali di usianya yang ke-60. Ibuku, yang tetap menyetir walau lututnya nyeri karena pengeroposan tulang mulai menyerang. Ibuku, yang selalu bersemangat dalam belajar dan bekerja. Cinta dan do’a kami untuk ibu selalu.

April 20, 2015

Pembelajaran dari Seorang Mantan Office Boy

Filed under: Renungan — intankd @ 4:11 pm

Pagi ini aku bertemu dengan Pak Ahmad di lift. Ia menyapaku yang sibuk sendiri dengan HP ku dan tak menyadari ia berdiri disampingku. Melihat ia membawa kantong plastik besar berisi nasi kotak makanan dagangannya, aku memesan satu untuk makan siang nanti.

Sambil berjalan menuju ruang kerja, aku merenung dan memikirkan Pak Ahmad. Pak Ahmad sebelumnya adalah salah seorang Office Boy di kantor ini. Sejalan dengan meluncurnya harga minyak dan gas bumi yang menghantam industri, perusahaan tempatku bekerja mem-PHK banyak tenaga kerja, termasuk Pak Ahmad. Walau ia bekerja di bagian yang berbeda denganku, namun aku mengenalnya karena ia juga sering membawa peyek dan asinan sayur untuk ditawarkan ke para karyawan. Di hari terakhirnya bekerja, ia pamit padaku dan mungkin kepada ‘customer’nya yang lain. Aku merasa sangat prihatin padanya waktu itu, hanya bisa berharap semoga Tuhan memberinya jalan lain untuk mencari rezeki. Aku lalu mengirim pesan via whasapp ke beberapa teman yang juga pelanggan Pak Ahmad,” kita tidak akan bisa menikmati peyek Pak Ahmad lagi, karena ini adalah hari terakhirnya bekerja disini.”

Namun ternyata aku salah. Beberapa hari setelah itu aku bertemu Yudi, salah seorang OB, yang menawarkan peyek titipan Pak Ahmad. Wah, Pak Ahmad masih tetap dapat menjangkau pelanggannya di kantor ini, walaupun melalui mantan rekan kerjanya.

Lalu beberapa hari setelah itu, telepon di mejaku berdering, dari satpam yang bertanya apakah aku bersedia menerima telepon dari Pak Ahmad, yang kemudian kuiyakan. Dari ujung sana terdengar suara halus Pak Ahmad mengucap salam, menanyakan kabar, dan menawarkan ayam rica-rica untuk makan siang. Waaah, Pak Ahmad, bisnisnya bukan saja tidak berhenti, tapi juga diperluas dengan menambah item. Aku salut. Dibalik penampilannya yang benar-benar bersahaja, ia telah mengajari aku tentang semangat hidup dan bahkan bisnis. See? Lihatlah apa yang ia telah lakukan:

1. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan, Ini dilakukan dengan cara berpamitan kepada para pelanggannya termasuk aku, juga dengan menyapaku secara aktif di lift.
2. Menjaga hubungan baik dengan semua stakeholder, terbukti mantan rekan kerjanya mau membantunya menjalankan ‘bisnis’ berjualan peyek, dan juga bisa ‘membujuk’ satpam untuk mau menelepon ke meja-meja pelanggannya, walau ia sudah tidak lagi bekerja di kantor ini.
3. Memperluas usaha dengan mengandalkan pengetahuannya akan keadaan ‘market’. Ia tahu bahwa sebagian karyawan sering tidak sempat untuk membeli makan siang, dan sering menitip kepada OB untuk dibelikan. Dan ternyata, kenyataan bahwa karyawan sering meminta OB membelikan makanan tidak dianggapnya sebagai halangan, namun justru peluang, karena ada saatnya juga OB terlalu banyak pekerjaan sehingga tidak sempat membelikan.
4. Kembali pada menjaga hubungan baik, para OB yang masih bekerja di kantor kelihatannya tidak tersaingi dengan hadirnya bisnis makan siang Pak Ahmad ini, terbukti ketika Pak Ahmad belum punya uang kembalian untuk ku, ia berkata akan menitipkannya pada Pak Jajang, OB di grup ku, kalau ia tidak bisa menjumpaiku lagi di hari ini.

Salut buat Pak Ahmad. Semoga Allah melimpahkannya rezeki yang berkecukupan dan berkah dari usahanya yang penuh semangat, amin..

June 20, 2009

Comments for Zahra

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 10:09 pm

zahra_low

 

 

 

 

Yang paling sering dikomentari orang-orang dari zahra:

1. Rambutnya yang hitam lebat;

2. Matanya yang belo;

3. Alisnya yang (katanya) bagus;

4. Pipinya yang tembem;

5. Perawakannya yang embot;

5. Kemiripannya yang amat sangat dengan papanya;

6. Keramahannya, baik pada sesama bayi, sampai pada ibu-ibu pengurus posyandu;

7. Pembawaannya yang gak pernah rewel, baik kalo lagi ikut mamanya ngaji, belanja, atau lagi ditinggal kerja mamanya.

 

Alhamdulillah. Moga anak mama papa makin hari makin cantik, makin berbudi, makin pintar dan sehat selalu, amin.

 

Jakarta, 11 Juni 2009

June 7, 2009

one of the best moment (2)

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 1:51 am
Tags:

ketika lelah dari kantor menguap, melihat Zahra yang kegirangan menyambut kepulanganku,

dan mendekapmu erat, mencium lembut pipimu…

one of the best moment

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 1:44 am
Tags:

ketika Zahra melepaskan hisapannya dengan ekspresi puas di wajahnya,

alhamdulillah…

February 22, 2009

Nouruzzahra

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 10:25 am

pix_031img_32861img_02051

Airmatamu adalah mutiara

tangismu adalah orkestra

tawamu adalah keindahan

seluruh dirimu

adalah anugrah kecintaan

 

Jakarta, 22 Februari 2009

December 13, 2007

Undangan Pernikahan kami tgl 08-01-08

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 4:48 pm

 undangan kita

Salam  ma’asalawat…

Semoga keberkahan dan rahmat Allah Swt selalu menyertai teman2 sekalian dalam menjalani aktivitas sehari2, Ilahi Amin…

Teman2 dalam kesempatan ini izinkan kami mewakili pihak keluarga untuk menyampaikan Undangan Pernikahan kami berdua yang Insya Allah akan diadakan di Kutacane, Aceh Tenggara pada tgl 8 Jan 08.
Kami benar2 mengharapkan doa restu dari teman2 semua agar kami dapat melangsungkan pernikahan kami dengan harapan dapat dimudahkan dan dilancarkan serta dicurah limpahkan keberkahan serta rahmat oleh Allah Swt di dalamnya. Dan dapat membangun rumah tangga yang sesuai dengan nilai2 Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Suci Muhammad Saww dan Ahlulbayt sucinya yaitu rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, Ilahi Amin…

Salam

Dhani & Intan

December 12, 2007

Mencintaimu (2)

Filed under: coretan kataku,Tentang Kita — intankd @ 9:52 am

bila aku hilang, dan kamu hilang

bila aku mati, dan kamu mati

maka sebenar  cinta akan  menjelma antara kita

dan kita pun dilahirkan kembali

sebagai jiwa yang satu

satu….

(9 Des 07)

Next Page »

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.