catatan-ku

May 31, 2016

Manusia Dari Batu?

Filed under: Celoteh Zahra — intankd @ 10:47 am

Percakapan dalam mobil, ketika Zahra melihat tumpukan bebatuan di pinggir jalan.

Zahra: Ma, batuan itu sebenarnya dari mana siy asalnya

Mama: Dari Magma, Kak

Z: Magma itu apa?

M: Magma itu seperti Lava yang kakak pernah lihat. Kalau masih di dalam bumi, namanya magma. Kalau udah di permukaan bumi, namanya lava. Panaaaas bangeeet. Nanti kalau magmanya mendingin, jadi jadi batu. Nanti lama-lama batunya lapuk, berubah jadi tanah. Bisa ditanami, deh.

Z: Jadi tanah itu asalnya dari batu?

M: Iya

Z: Jadi manusia itu asalnya dari batu, dong.

M: Lho, kok bisa?

Z: Ya, kan katanya manusia diciptakan dari tanah. Tanah dari batu. Berarti Manusia dari batu.

M: Eh, iya juga ya Kak.. (Kok mama ga mikir kesitu ya?)

 

13 November 2015

Tentang Seorang Perempuan Muda

Filed under: Fiksi-ku — intankd @ 10:22 am

Nah, itu, perempuan muda itu masih tetap datang. Langkahnya pelan tapi pasti. Sebentar lagi tentu ia  sudah akan tiba di tempat aku berdiri. Dan setibanya di sini, aku tahu, ia akan menatap ke ujung jalan untuk beberapa lama, sampai kakinya pegal tak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Kalau sudah begitu, ia akan berjalan mundur sambil matanya tak lepas memandang ke arah yang sama, lalu menyandarkan tubuhnya padaku.

Jangan sekali-sekali kalian merasa heran, bagaimana aku sampai hapal dengan perilakunya. Bagaimana tidak, kalau setiap hari perempuan itu sudah ada di sini setiap pukul tujuh pagi, dan tidak akan beranjak pulang sebelum matahari pamit undur. Lalu setiap siang, ketika matahari tepat di atas kepala, seorang perempuan lain yang jauh lebih tua akan datang untuk mengajak perempuan muda itu pulang. Perempuan tua itu masih terlihat cantik, walau matanya hampir tanpa cahaya dan tak sedikit pun senyum terlukis di bibirnya. Dan yang terjadi belum pernah berubah. Perempuan muda itu  akan menggeleng, tanpa memalingkan wajahnya dari ujung jalan itu. Perempuan tua itu akhirnya akan meninggalkan perempuan muda itu seorang diri, dengan pesan agar segera menyantap makanan yang ia bawa dari rumah. Selalu, dan selalu, makanan dengan lauk yang sangat sederhana itu dingin tanpa sempat tersentuh sama sekali.

Tak lama lagi, akan lewat  rombongan anak-anak yang pulang dari sekolah. Syukurlah dalam situasi seperti ini, masih ada yang sempat ke sekolah. Walau di halaman sekolah itu tak lagi terpasang tiang bendera. Ku dengar dari anak-anak itu, keputusan mempensiunkan si tiang bendera diambil dengan alasan keamanan dan keselamatan juga. Biar tidak bingung harus mengibarkan bendera yang mana, katanya.

Tidak seperti umumnya anak-anak yang suka iseng menggoda orang-orang yang dianggap aneh, anak-anak itu hanya diam saja setiap kali melewati ku  dengan perempuan muda  yang matanya menatap ujung jalan itu hampir tanpa berkedip. Sebagian dari mereka akan berjalan dengan menunduk, seolah-olah tak ingin melihat seribu duka di wajah perempuan itu. Tetapi sekali-sekali ada juga yang berani menyapa, “Belum datang juga, kak?”

Dan perempuan itu, herannya aku, akan tersenyum, dan menjawab, “Belum, mungkin sebentar lagi.”

Ketika anak sekolah itu tetap berdiri di tempatnya,perempuan muda itu akan menyuruhnya pergi. “Pulang aja, dek. Biar kakak aja yang nunggu di sini.”

Anak sekolah itu menggeleng. “Tapi aku mau ngawani kakak.”

Tetapi perempuan muda itu segera menuntun anak itu berjalan menjauhi ku. “Jangan sampai  bingung nanti mamakmu mencari-cari. Ayo, lekas pulang.”

Dan aku senang senang melihat cahaya di wajah seribu duka itu. Ini baru wajah yang hidup, fikirku. Tapi setelah anak sekolah itu menjauh, walau dengan langkah yang ogah-ogahan, perempuan muda itu akan kembali menampilkan wajah hampanya, dengan mata yang tak lepas memandang ujun jalan.

Atau terkadang, anak-anak itu akan mengajak perempuan muda itu untuk pulang bersama mereka. Tapi ia hanya menggeleng. Atau lain waktu, anak – anak itu akan berlaku seolah-olah ikut mencari ke ujung jalan. Dengan memasang wajah kecewa, mereka akan kembali ke tempatku. “Enggak ada, kak. Ayolah, kita pulang saja. Abuwa dan Bang Hamid enggak akan pulang hari ini.”

Tapi lagi-lagi perempuan muda itu menggeleng. Sampai akhirnya, sekarang anak-anak sekolah itu lebih sering diam daripada menyapa. Kukira bukan karena bosan, tetapi mungkin khawatir kalau-kalau si kakak akan merasa terganggu. Siang ini samar-samar masih dapat kutangkap pembicaraan mereka ketika berjalan menjauhi kami, aku dan perempuan muda itu. “aku pingin Kak Fauziah seperti dulu lagi,” kata yang satu.

“Aku juga. Aku ingin belajar ngaji lagi dengan dia.”

“Iya, aku nyesal dulu bandel sekali. Nanti kalau kak Fauziah ngajar lagi, aku akan jadi anak yang patuh.”

Ah, anak-anak yang baik.

Aku menatap perempuan muda itu. Ah, ya, namanya Fauziah. Apakah ia mendengar harapan anak-anak itu? Siapa tahu itu bisa menggugah dirinya. Sayang sekali, kelihatannya tidak. Ia masih tetap bertahan di dekatku. Yach, ia hanya akan pulang kalu hari sudah gelap. Itupun mungkun karena aku akan segera digunakan oleh para laki-laki yang bertugas jaga malam. Seperti kemarin malam, ia baru beranjak ketika empat laki-laki berjalan ke arah kami.

“Masih di sini juga rupanya kau Fauziah,” kata yang lelaki berkopiah.

Fauziah hanya menggumam tak jelas, sambil mengemasi makanan yang tak dimakannya, lalu segera berlalu.

Keempat lelaki itu masih menatapnya menjauh. “makin hari, aku makin kasihan saja si Fauziah itu,” laki-laki yang berkumis tebal berkata sambil menyalakan rokoknya. “Betul-betul gila dia nanti, kalau dibiarkan begitu terus,” lanjutnya.

“Jadi, macam mana mau kita buat?”

“Kita bilang sajalah, kalau bapaknya dan si Hamid itu sudah meninggal. Biar enggak usah dia nunggu-nunggu mereka terus di sini.”

“Ah, sudah dicoba sama istriku, pak,” kata lelaki yang kurus sambil menghirup kopi kentalnya yang harum. “tapi si Fauziah malah nanya, mana kuburnya. Kurasa, udah enggak bisa dibilangin lagi si Fauziah itu, pak.”

Yang lain terdiam. Hanya menatap kepulan-kepulan asap rokok yang memenuhiku.

“Pak Juned, si Fauziah itu, sudah sah belum nikahnya sama si Hamid?”

Laki-laki berkopiah yang dipanggil Pak Juned itu mengankat bahunya. “Manalah aku tahu. Yang menikahkan mereka itu kan bapaknya si Fauziah sendiri, Pak Hasan. Beliau sudah hilang sama si Hamid, dibawa tentara-tentara itu. Pak Udin sama Pak Yusuf yang jadi saksi tewas ditempat. “ Dia menatap rekan-rekannya dengan wajah yang merah, menahan marah agaknya.

“Masih untung si Fauziah sempat dilarikan mamaknya keluar,” sambung laki-laki yang kurus.

“Ah, tapi apa gunanya. Dia malah jadi gila sekarang,” kata laki-laki berkumis.

Serempak ketiga laki-laki yang lain menatapnya dengan pandangan tak suka. Si lelaki berkumis menjadi serba salah. “Maaf, bukan maksud ku bilang begitu,” katanya pelan.

Pak Juned mengibaskan tangannya. “Sudahlah, bukan salahmu juga. Aku yakin, sebenarnya kita semua punya fikiran, atau paling tidak, kekhawatiran yang sama.” Pak Juned menghembuskan napas beratnya. “Tetapi kita tidak sampai hati untuk bilang,” lanjutnya.

“Aku masih ingat betul, waktu si Fauziah lari ke pos ronda ini, mengejar truk tentara itu. Sampai sekarang, rasanya aku masih marah kalau mengingat kejadian itu.”

Ketiga lelaki yang lain saling berpandangan. Sepertinya mereka punya perasaan yang sama. Aku sendiri, rasanya ingin berbagi juga dengan mereka.

Aku masih ingat betul, kejadian 3 bulan yang lalu itu. Hari itu, setiap orang yang lewat di depanku sibuk memuji cantiknya si Fauziah. Tentu saja, fikirku. Siapakah yang dapat menandingi kecantikan wajah kebahagiaan di hari pernikahannya? Sayangnya, bukan wajah itu yang kemudian dapat kulihat.

Mula-mula satu truk tentara melewatiku, memasuki jalan kampung dan hilang di tikungan jalan. Kemudian terdengar keributan yang sungguh menyeramkan. Bertahun-tahun aku berdiri di tempat ini, belum pernah ada suara-suara mengerikan seperti ini. “Apa yang terjadi?” aku berteriak  pada orang-orang yang berlarian di depanku. Sayangnya tidak ada yang memperdulikanku. Ah, ya, bagaimana mungkin mereka bisa mendengar suara pos ronda seperti aku ini, keluhku.

Tiba-tiba truk tentara itu lewat lagi di depanku. Huh,sungguh berisik. Dan debu-debu yang diterbangkannya itu tentu  akan membuatku batuk bila aku seorang manusia. Eh, bukankah itu Pak Hasan dan si Hamid? Mau apa mereka ikut tentara-tentara itu?

“Ba……………….Pak…………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“Bang Ha….mid…………………!!!!!!!!!!!!!!!!”

Astaga, itu kan si Fauziah. Dia berlari ke arah ku. Mau mengejar truk tentara itu rupanya. Tapi apalah daya kaki-kaki kecil  pengantin itu? Dengan cepat truk itu sudah membelok di ujung jalan, hilang dari pandangan.

“Ba…pak…………”

“Bang Ha…mid……….”

Duh, suara itu begitu lemahnya. Aku menatap iba pada perempuan muda yang mengucapkan kata-kata itu. Astaga, siapa saja pasti akan iba melihatnya. Pengantin perempuan itu, wajahnya penuh air mata, sanggulnya telah terlepas terurai. Ia jatuh berlutut ke tanah. Mulut kecilnya berulang-ulang memanggil ayah dan laki-laki yang seharusnya bersanding di pelaminan dengannya hari ini, sampai ia kemudian kehilangan kesadarannya.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Dari ujung jalan, muncul kendaraan yang selama ini di tunggu-tunggu Fauziah. Truk Tentara!!! Fauziah segera berlari menyambutnya dengan wajah gembira. Sebaliknya, aku malah khawatir, jangan-jangan sebentar lagi aku tak dapat lagi melihat Fauziah. Atau justru akan muncul Fauziah-Fauziah yang lain?

 

September 1999

 

 

 

 

Perempuan yang Menunggu Cinta

Filed under: Fiksi-ku — intankd @ 10:15 am

 

Usiaku 20 tahun. Tidak pernah punya pacar, karena memang merasa tidak butuh pacar. Ketika teman-teman ku ada yang sudah sampai lima  kali berganti pacar, aku tetap sendiri saja.

“Kenapa kamu tidak punya pacar?” tanya mereka.

“Untuk apa?” aku balik tanya.

“Ya, untuk menemani mu kemana kamu mau pergi,” jawab mereka.

“Aku tidak butuh ajudan,” jawabku.

Memang tidak, ulangku dalam hati. Untuk apa punya pacar?

“Kenapa kamu tidak punya pacar?” tanya ibuku.

“Untuk apa?” aku balik tanya.

Ibu memandangku gelisah.

“Kamu sudah 20 tahun”, katanya. “Masak kamu tidak punya pacar juga. Apa kamu punya kesulitan dalam bergaul?”

“Tentu saja tidak,” aku tertawa. “Ibu tahu, teman-temanku banyak. Aku tidak hidup soliter. Tenanglah ibu,” kataku sambil ku kecup pipinya.

“Kenapa kamu tidak punya pacar?” tanyaku pada bayangan yang muncul di cermin. Ingin kusentuh ia. Bibir yang sensual. Banyak yang ingin menciumnya. Aku tahu itu. Tapi tak sudi aku memberinya pada laki-laki biasa.

“Kenapa kamu tidak punya pacar?” tanyaku lagi.

Mata itu mengerjap dengan indahnya. Banyak yang bilang kalau ia seperti bintang yang bersinar di langit kelam. Tapi ia tak pernah menemukan laki-laki yang istimewa, batinku.

Bayangan di cermin itu bergerak ketika tanganku yang halus menanggalkan pakaian satu demi satu. Hampir sempurna, fikirku, sambil tetap menatap cermin. Tapi, kenapa kamu tidak punya pacar?

Bah! Apa tubuh ini dicipta hanya untuk seorang pacar?

Dengan gerakan cepat kukenakan kembali pakaianku. Kusisir rambutku yang sebahu. Ber-make-up  sekedarnya – toh aku sudah cantik – dan setengah berlari aku menuju garasi. Aku sudah hampir terlambat untuk kuliah pagi ini.

Di mobil aku masih sempat bertanya ketika melirik ke kaca spion, “Kenapa kamu tidak punya pacar?” dan jawabannya kuperoleh pada saat itu juga.

“karena kamu memang tidak pernah jatuh cinta”.

Baiklah, aku akan menunggu saat itu, saat aku jatuh cinta, pada laki-laki yang juga jatuh cinta padaku.  Dan aku akan berpacaran dengannya.

==========================

Usiaku 25 tahun. Dan untuk pertamakalinya aku bertemu laki-laki terindah di dunia.* aku tak menyangka akan begini. Aku lumpuh di hadapannya. Jantungku berdetak lebih kencang bila di dekatnya. Dan aku tak berani lama-lama menatap wajahnya, khawatir kalau ia melihat asa di mataku. Sungguh, ketika pertama kali bertemu, aku tak menyangka akan sedemikian hebat pengaruhnya padaku. Andai teman-temanku tahu kalau aku tak berdaya di hadapannya. Ah, ternyata benar aku terpesona padamu.

“Cintakah aku padamu?” tanyaku. Betapa bodohnya. Mengapa jadi pungguk merindukan bulan?

Laki-laki itu, mungkin tidak setampan para pangeran dalam dongeng masa kecilku. Tapi ia sangat menawan. Aku bahkan tak dapat mengurai, apa yang membuatku terpesona. Seluruh  dirinya sangat indah, sangat memikat. Senyumnya, tatapannya, setiap gerakan tubuhnya, memabukkan. Sialan, aku benar-benar jatuh cinta! Lebih sialan lagi, dia juga jatuh cinta padaku.

“Kita tidak punya masa depan,” katakuU.   Dia menatapku pilu.

“Tapi aku tak peduli,”kataku lagi. “Mari kita nikmati hari ini. Tak usah fikirkan masa depan.”

“Kita tidak bisa begitu,” katanya. Kita akan merasa sakit ketika hari ini berakhir, dan engkau yang paling merugi.”

“Aku tak perduli,”kataku lagi. “peluk aku, ciumlah aku. Aku cinta padamu. Engkau cinta padaku juga bukan?”

Laki-laki terindah itu memelukku. Duhai, aku terpesona padamu, bisikku. Walau kutahu, berjalan ke arah mu berarti menghancurkan segala. Tapi aku tak mau berpaling. Tidak, tidak sekarang. Aku ingin menghanyutkan diri padamu. Aku ingin terseret angin padamu tak berhenti.  Paling tidak, tidak sekarang.

“Kamu berpacaran dengannya?” tanya ibuku tajam.

“Aku cinta padanya,” jawabku.

Jadi, benar kamu berpacaran dengannya?” Sekarang aku merasakan kemarahan dalam suara ibu..

“Dia seusia dengan ku. Engkau seusia deangan anaknya. Bagaimana ini bisa terjadi? Berfikirlah dengan jernih. Rasakan penderitaan istrinya dengan hatimu.   Seperti tidak ada laki-laki lain saja!”

Memang tidak, batinku. Tidak ada yang seindah dia.

“Aku cinta padanya,” kataku. Ku lihat wajah ibu menegang. “Dan aku akan meninggalkannya,” sambungku. Ketegangan itu mencair.

Ibu mendekatiku, menarik aku dalam pelukannya yang selalu hangat. “Kamu masih muda, dan sangat cantik, cerdas, dan menyenangkan. Masih banyak cinta yang akan datang,” katanya.

Aku tahu itu. Tapi apakah cinta juga akan datang ke hatiku? Baiklah, aku akan menunggunya.

===================================

Usiaku 42 tahun. Dan hari ini aku merasakan kehadiran cinta. Mungkin karena ini adalah yang kedua kalinya, aku menjadi lebih peka, lebih cepat sadar akan kehadirannya. Ya, aku kembali bertemu dengan laki-laki yang sangat indah. Begitu indahnya, hingga aku tak berani membandingkannya dengan laki-laki terindahku yang pertama. Jadi kuanggap saja mereka sama indahnya.

“Aku cinta padamu,” katanya. “Aku ingin menikahimu.”

Aku mencoba mengingat bayanganku di cermin. Masih cantik, fikir ku puas. Masih menarik. Tapi tidak akan lama lagi. Semua itu akan segera pudar. Dan tiba-tiba untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa rendah diri, tidak percaya diri.

“Kamu masih muda,” jawabku pada laki-laki itu. “Jangan memilih aku.”

“Kenapa? Usia tidak menjadi soal,” protesmu. “Yang penting cinta. Apakah engkau tidak cinta padaku?”

“Tentu aku cinta. Tapi kita tidak punya masa depan,” kataku, mengulang ucapanku pada laki-laki pertama dalam hidupku.

“Aku tak peduli. Aku akan akan segera lulus kuliah. Dan pada saat itu, engkau bukan dosenku lagi. Kita adalah laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta,”katamu yakin.

Dan aku yang tidak yakin. Oh, Tuhan, aku mengeluh. Mengapa cinta datang pada tempat yang salah?

=============================

Usiaku 45 tahun. Dan aku masih di sini, menunggu cinta. Berharap suatu hari akan datang cinta yang lain, yang indah, yang mudah, yang tak perlu menentang arus untuk mencapainya. Ya, aku akan tetap menunggu.

===============================

Usiaku 65 tahun. Dan aku tidak lagi menunggu cinta. Karena ternyata cuma ada dua laki-laki yang indah di dunia ini, yang cintanya tak berani kugenggam untuk selamanya. Tiba-tiba aku menyesali diri.

 

December 26, 2015

Jangan Buang Aku

Filed under: Renungan — intankd @ 5:32 pm
Tags:

“Kakak bungkus aja ya dek, sambalnya, disana nanti susah makanan”, begitu kata ibu pemilik warung, yang membuatku malu. Walau hanya makan dengan nasi putih, sepotong ikan goreng dan sambal merah, makanan ini terasa nikmat benar olehku. Terutama setelah berhari-hari aku hampir-hampir tak bisa makan sedikitpun, memikirkan keluarga dan kerabatku yang waktu itu belum jelas nasibnya. Begitupun, sambalnya tak bisa kuhabiskan. Dan aku merasa ‘bangga’ dapat menghabiskan sepiring nasi putih dengan ikannya dan tak kasihan pada sambal yang tersisa. Ucapan pemilik warung itu yang kemudian dengan sigap membungkus sisa sambal dari piringku terasa menusuk hatiku. Mengapa aku membuang-buang makanan, sementara ribuan orang di sana pasti sedang kesulitan makanan?

Kami sedang singgah di warung makan dalam perjalanan menuju Banda Aceh, menjemput saudara-saudara dan kerabatku. Di warung itu hampir tidak ada apa-apa. Hanya ada nasi putih, ikan goreng dan sambal. Aku berharap bisa membeli yang lebih baik dan lebih banyak, tapi yah, apa yang kamu harapkan dari daerah bencana? Pemilik warung tidak mengizinkan aku membeli sebanyak yang ku mau. “Berbagi sama yang lain ya Dek,” katanya.

Dan begitulah, terselip rasa malu di hatiku ketika akhirnya aku berhasil menjumpai sepupu-sepupuku yang sedang berada di tempat pengungsian di bandara Sultan Iskandar Muda, dan hanya dapat memberi mereka beberapa nasi bungkus berisi nasi putih, sambal dan sepotong kecil ikan goreng. Namun penerimaaan dan rasa terimakasih mereka membuatku terharu. “Alhamdulillah, makasih ya Tan, udah berhari-hari kami ga jumpa nasi, cuma makan indomie saja,” kata sepupuku sambil memelukku.

Aku mengajak mereka ikut denganku, meninggalkan kota ini. Namun mereka menolak. Dan aku mengerti. Dan aku merasa kecil di hadapan mereka. Mereka datang dari Yogya untuk mencari ayah bundanya, dan terdampar di bandara ini, tidak bisa masuk kota. Namun kehadiran mereka di sini sungguh membawa manfaat bagi para pengungsi lain. Mereka membawa barang-barang bantuan, menghibur para pengungsi, dan bahkan membuka posko kesehatan karena salah satunya adalah mahasiswa kedokteran. Ah, Pakcik dan Makcik yang mulia, telah berhasil kalian mendidik sepupu-sepupuku menjadi orang-orang yang memperhatikan dan mencintai sesama, bahkan di saat mereka sendiri sebenarnya begitu, begitu susah hati memikirkan keberadaan kalian.

“Kakak tahu, begitu hausnya kami di tempat pengungsian, sampai ketika ada orang membuang botol aqua yang sudah kosong, orang-orang berebut mengambil botol itu, berharap masih ada setetes dua tetes yang dapat menghilangkan dahaga mereka.” Aku memandang wajah adikku. Wajah yang kemarin ku takut tak kan dapat kulihat lagi. Kupandangi keponakanku, yang telah berhari-hari, jangankan bisa minum susu, air putih pun belum tentu. Ya Allah, telah Kau beri kami kesempatan untuk kembali bertemu dan  berkumpul, kesempatan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang lain saat ini. Kesempatan yang tentunya bukan untuk sia-sia belaka.

26 Desember 2015. Sebelas tahun telah berlalu. Begitu banyak pelajaran yang kuperoleh dari tsunami 2004. Namun aku menggigit bibir ketika mengetik ini, dan kembali merasa malu. Bahkan pelajaran yang paling mudah pun, untuk tidak membuang-buang makanan, masih belum berhasil kuresap. Makanan, yang begitu berharga bagi mereka di tempat lain, masih juga sering tersia-sia, disini. Ampuni aku, Tuhan.

#MengenangTsunami2004.

AlfatihahMa’aShalawatUntukMerekaYangKembaliPadaAllahPadaWaktuItu.

 

November 16, 2015

Manusia Dari Batu?

Filed under: Celoteh Zahra — intankd @ 6:37 pm
Tags:

Percakapan dalam mobil, ketika Zahra melihat tumpukan bebatuan di pinggir jalan.
Zahra: Ma, batuan itu sebenarnya dari mana siy asalnya
Mama: Dari Magma, Kak
Z: Magma itu apa?
M: Magma itu seperti Lava yang kakak pernah lihat. Kalau masih di dalam bumi, namanya magma. Kalau udah di permukaan bumi, namanya lava. Panaaaas bangeeet. Nanti kalau magmanya mendingin, jadi batu. Nanti lama-lama batunya lapuk, berubah jadi tanah. Bisa ditanami, deh.
Z: Jadi tanah itu asalnya dari batu?
M: Iya
Z: Jadi manusia itu asalnya dari batu, dong.
M: Lho, kok bisa?
Z: Ya, kan katanya manusia diciptakan dari tanah. Tanah dari batu. Berarti Manusia dari batu.
M: Eh, iya juga ya Kak.. (Kok mama ga mikir kesitu ya?)

April 24, 2015

Ibuku dan Semangatnya

Filed under: Uncategorized — intankd @ 1:35 pm

Usia ibu 50 tahun ketika ia mengabarkan aku bahwa ia baru saja membeli sebuah motor matic. Aku terdiam, dalam ketakberdayaan sekaligus kekaguman. Aku tahu di masa mudanya Ibu bisa mengendarai motor. Waktu aku kecil, ibu yang mengajari abangku naik motor, menggunakan motor ayahku. Dan itu motor besar, yang biasanya dikendarai oleh laki-laki. Maka ibu mengajari abangku di subuh buta, ketika jalanan belum ramai dan tidak banyak yang melihat ia mengendarai motor itu. Tapi itu sudah lama sekali. Sudah lama ibu tak mengendarai motor sendiri, dan kini ia hendak memulainya lagi, di usianya yang tidak   muda lagi.

“Motor matic ini gampang pakainya. Cuma perlu gas dan rem saja,” kata ibuku, seperti bisa membaca kekhawatiranku di ujung telepon. Aku tersenyum. Aku tentu tak bisa melarang. Siapa yang bisa melarang ibuku kalau ia sudah punya tekad? Bahkan abangku juga tidak, walau mungkin ia beresiko dianggap tidak berbakti oleh teman dan kerabat di kota kecil kami, yang akan melihat ibuku di usia tuanya malah mengendarai motor sendiri. Toh kami tidak punya solusi lain yang lebih baik. Sejak ayahku terserang stroke yang pernah melumpuhkan sebelah tubuhnya, ia tak lagi bisa mengendarai motor sendiri, walau kini sudah bisa berjalan dibantu tongkat. Maka ayah perlu orang lain untuk mengantarnya bepergian, ke rumah sakit, ke tempat pengobatan alternatif, ke masjid, atau sekedar jalan-jalan menghibur hati. Dan siapa yang bisa melakukannya dengan setia selain ibuku? Tiga anak-anaknya termasuk aku, tinggal jauh di luar kota. Abang memang tinggal sekota dengan ayah dan ibu, namun tugas-tugasnya di kantor dan organisasi/LSM membuatnya tak bisa setiap saat hadir disamping ayah ibu.

Dan nyatanya aku memang tidak perlu khawatir. Dengan cepat ibu sudah menguasai motor matic-nya. Ibu memang sigap dan cepat belajar. Ah, hidup memang berputar. Dulu ayah yang membonceng ibu, sekarang ibu yang memboncengkan ayah.

Dan usia ibu 60 tahun ketika mengabarkan aku bahwa beliau sekarang belajar menyetir mobil. Belajar menyetir mobil untuk pertama kalinya. Kenapa? Ya, kenapa tidak? Ayah kini tak lagi bisa dibonceng dengan motor. Bukan saja karena beliau kehilangan salah satu jempol kakinya akibat penyumbatan pembuluh darah yang parah dikaki, tapi juga karena otot ayah memendek dan kaku, sehingga tak lagi bisa digunakan untuk berjalan. Ayahku berteriak kesakitan ketika perawat mencoba meluruskan kakinya dalam sesi fisioterapi. Ayahku, yang biasanya sangat tabah dan tak pernah mengeluhkan rasa nyeri yang dideritanya selama sakit, walau nyeri itu membuatnya tak bisa tidur berminggu-minggu hingga semakin menurunkan kondisinya. Teriakan itu menghantam hati ibuku dan membuatnya lemas dan gemetar. Tahulah ibu, ayah tak lagi bisa berjalan. Tak lagi bisa dibonceng di atas motor. Dan ibuku memutuskan untuk belajar menyetir, agar bisa mengantar ayah kemana-mana dengan mobilnya. Seperti hari itu, setelah memarkir mobil di halaman rumah sakit, ibu turun dari mobilnya, membuka bagasi, mengeluarkan kursi roda, membuka lipatannya, mendorongnya ke sisi kiri mobil, membuka pintu depan kiri mobil, lalu membantu ayahku keluar dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Orang-orang yang melihat langsung tergopoh-gopoh mendekat hendak menolong. “Nenek, kenapa ga bilang-bilang kalau bawa kakek? Biar kami bantu,” kata mereka. Ibuku hanya tertawa.

Dan begitulah, orang-orang di kota kecil kami, yang nyaris mengenal semua penduduk kotanya, kemudian terbiasa melihat ibuku bepergian dengan mobil sedannya, dengan ayahku disampingnya. Pemilik toko, petugas rumah sakit, polisi lalulintas, mejadi hapal dengan ibuku. Ibuku, yang belajar menyetir pertama kali di usianya yang ke-60. Ibuku, yang tetap menyetir walau lututnya nyeri karena pengeroposan tulang mulai menyerang. Ibuku, yang selalu bersemangat dalam belajar dan bekerja. Cinta dan do’a kami untuk ibu selalu.

April 20, 2015

Pembelajaran dari Seorang Mantan Office Boy

Filed under: Renungan — intankd @ 4:11 pm

Pagi ini aku bertemu dengan Pak Ahmad di lift. Ia menyapaku yang sibuk sendiri dengan HP ku dan tak menyadari ia berdiri disampingku. Melihat ia membawa kantong plastik besar berisi nasi kotak makanan dagangannya, aku memesan satu untuk makan siang nanti.

Sambil berjalan menuju ruang kerja, aku merenung dan memikirkan Pak Ahmad. Pak Ahmad sebelumnya adalah salah seorang Office Boy di kantor ini. Sejalan dengan meluncurnya harga minyak dan gas bumi yang menghantam industri, perusahaan tempatku bekerja mem-PHK banyak tenaga kerja, termasuk Pak Ahmad. Walau ia bekerja di bagian yang berbeda denganku, namun aku mengenalnya karena ia juga sering membawa peyek dan asinan sayur untuk ditawarkan ke para karyawan. Di hari terakhirnya bekerja, ia pamit padaku dan mungkin kepada ‘customer’nya yang lain. Aku merasa sangat prihatin padanya waktu itu, hanya bisa berharap semoga Tuhan memberinya jalan lain untuk mencari rezeki. Aku lalu mengirim pesan via whasapp ke beberapa teman yang juga pelanggan Pak Ahmad,” kita tidak akan bisa menikmati peyek Pak Ahmad lagi, karena ini adalah hari terakhirnya bekerja disini.”

Namun ternyata aku salah. Beberapa hari setelah itu aku bertemu Yudi, salah seorang OB, yang menawarkan peyek titipan Pak Ahmad. Wah, Pak Ahmad masih tetap dapat menjangkau pelanggannya di kantor ini, walaupun melalui mantan rekan kerjanya.

Lalu beberapa hari setelah itu, telepon di mejaku berdering, dari satpam yang bertanya apakah aku bersedia menerima telepon dari Pak Ahmad, yang kemudian kuiyakan. Dari ujung sana terdengar suara halus Pak Ahmad mengucap salam, menanyakan kabar, dan menawarkan ayam rica-rica untuk makan siang. Waaah, Pak Ahmad, bisnisnya bukan saja tidak berhenti, tapi juga diperluas dengan menambah item. Aku salut. Dibalik penampilannya yang benar-benar bersahaja, ia telah mengajari aku tentang semangat hidup dan bahkan bisnis. See? Lihatlah apa yang ia telah lakukan:

1. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan, Ini dilakukan dengan cara berpamitan kepada para pelanggannya termasuk aku, juga dengan menyapaku secara aktif di lift.
2. Menjaga hubungan baik dengan semua stakeholder, terbukti mantan rekan kerjanya mau membantunya menjalankan ‘bisnis’ berjualan peyek, dan juga bisa ‘membujuk’ satpam untuk mau menelepon ke meja-meja pelanggannya, walau ia sudah tidak lagi bekerja di kantor ini.
3. Memperluas usaha dengan mengandalkan pengetahuannya akan keadaan ‘market’. Ia tahu bahwa sebagian karyawan sering tidak sempat untuk membeli makan siang, dan sering menitip kepada OB untuk dibelikan. Dan ternyata, kenyataan bahwa karyawan sering meminta OB membelikan makanan tidak dianggapnya sebagai halangan, namun justru peluang, karena ada saatnya juga OB terlalu banyak pekerjaan sehingga tidak sempat membelikan.
4. Kembali pada menjaga hubungan baik, para OB yang masih bekerja di kantor kelihatannya tidak tersaingi dengan hadirnya bisnis makan siang Pak Ahmad ini, terbukti ketika Pak Ahmad belum punya uang kembalian untuk ku, ia berkata akan menitipkannya pada Pak Jajang, OB di grup ku, kalau ia tidak bisa menjumpaiku lagi di hari ini.

Salut buat Pak Ahmad. Semoga Allah melimpahkannya rezeki yang berkecukupan dan berkah dari usahanya yang penuh semangat, amin..

June 20, 2009

Comments for Zahra

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 10:09 pm

zahra_low

 

 

 

 

Yang paling sering dikomentari orang-orang dari zahra:

1. Rambutnya yang hitam lebat;

2. Matanya yang belo;

3. Alisnya yang (katanya) bagus;

4. Pipinya yang tembem;

5. Perawakannya yang embot;

5. Kemiripannya yang amat sangat dengan papanya;

6. Keramahannya, baik pada sesama bayi, sampai pada ibu-ibu pengurus posyandu;

7. Pembawaannya yang gak pernah rewel, baik kalo lagi ikut mamanya ngaji, belanja, atau lagi ditinggal kerja mamanya.

 

Alhamdulillah. Moga anak mama papa makin hari makin cantik, makin berbudi, makin pintar dan sehat selalu, amin.

 

Jakarta, 11 Juni 2009

June 7, 2009

one of the best moment (2)

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 1:51 am
Tags:

ketika lelah dari kantor menguap, melihat Zahra yang kegirangan menyambut kepulanganku,

dan mendekapmu erat, mencium lembut pipimu…

one of the best moment

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 1:44 am
Tags:

ketika Zahra melepaskan hisapannya dengan ekspresi puas di wajahnya,

alhamdulillah…

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.