catatan-ku

July 9, 2007

Lelaki di Trotoar itu

Filed under: Tentang Kita — intankd @ 1:22 pm

Hatiku lega sekaligus waswas melihat seorang lelaki berdiri di trotoar itu. Lega karena paling tidak aku tak sendiri menunggu bis atau taksi di trotoar yg sepi ini, waswas karena aku tentu tak mengenal lelaki itu. Semoga ia orang baik-baik, harapku dalam hati.

Sekilas aku tersenyum begitu tiba di dekatnya. Dasar aku ini, pada orang asingpun aku bisa berbagi senyum. Tak kulihat balasan senyumnya, tapi kudengar suara beratnya menyapa pelan, “Eh, mbak MC.”

Aku jadi lega sekarang. Sapaan itu menunjukkan ia adalah salah seorang peserta acara bedah buku barusan dimana aku menjadi MC-nya, dan sebagai MC yang sempat berinteraksi sejenak dengan hadirin pada sesi kuis dan pemberian hadiah buku, aku tahu bahwa peserta acara ini didominasi oleh murid-murid atau jamaah pengajian sang ustadz penulis buku. Aku boleh berharap lelaki disebelahku ini adalah bagian dari mereka, mengabaikan penampilannya yang sekenanya, dengan rambut kusut sedikit gondrong dan brewoknya, serta tanpa senyum sama sekali dibibirnya. Benar-benar bukan penampilan anak pengajian, hehehe.

“Tinggal dimana Mas?” tanyaku mengisi kesunyian. Malam ini benar-benar sunyi. Aku berniat untuk menyetop apapun yg lebih dulu lewat, taksi ataupun bis. Semua bis akan melewati daerah tempat tinggalku yang sebenarnya tidak begitu jauh dari sini. Kalau saja ini masih sore, atau malam belum selarut ini, aku bisa jadi memilih berjalan kaki  menikmati waktu.

“Bekasi,” jawabnya singkat, dan tak ada pertanyaan balik. 

Bekasi? Jauh dooong. Ditempuh dengan kendaraan umum? Aku menghatur salut dalam hati padanya, sebagaimana salut yang selalu kuberikan tanpa kata pada orang-orang yang kutemui di tiap masjid, di tiap forum diskusi, yang datang dari tempat jauh, yang memerlukan niat dan upaya lebih untuk hadir dibanding aku.

Untunglah bis yang kutunggu datang. Aku melompat naik, mencari kursi dan duduk di bagian ditengah. Lelaki itu juga melompat naik, tapi memilih untuk duduk di kursi deretan belakang. Selang beberapa menit kemudian aku tiba ditujuanku. Insting(?) ramahku membuatku menoleh dan melambai pada lelaki itu sebelum melompat turun dari pintu depan. Ia kulihat hanya mengangguk sekilas.

Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya, bahkan memikirkannya pun tidak. Kelihatannya aku sudah melupakannya sama sekali. Namun ternyata aku salah. Lelaki itu, trotoar itu, bis itu, masih sangat lekat dipikiranku, terekam baik di memori ku, dan muncul begitu jelas ketika aku bertemu lagi dengan lelaki itu hampir setahun kemudian. Dia masih seperti pertama kali aku bertemu dengannya, tak ada senyum dibibirnya.

Prabumulih, 6 Juli 2007

May 17, 2007

HELP!!!

Filed under: Catatan-ku — intankd @ 10:58 am

I am sleepy in the Class!

:-(

Kuala Lumpur, 17 May 2007, 11.58 am 

May 16, 2007

bersamamu

Filed under: coretan kataku — intankd @ 10:42 am

lampu kota
dan engkau disisiku

Kuala Lumpur, 16 May 2007

April 12, 2007

Jangan berhenti

Filed under: coretan kataku — intankd @ 10:53 am

kuingin waktu berhenti

agar kita disini tak berhenti

Jakarta, 12 April 2007

April 11, 2007

Aku masih disini

Filed under: coretan kataku — intankd @ 5:50 pm

timur

terbentur

barat

tersayat

utara

tiada arah

ke selatankah?

atau beku saja?

jakarta, 11 April 2007

March 30, 2007

Berhentilah sejenak

Filed under: Catatan-ku — intankd @ 8:48 pm

Betapa masih sulit ternyata, memadukan idealita dengan realita, menyatukan pemahaman dengan keinginan semu semata, menjiwai perbedaan sebagai rahmat dengan sepenuh cinta, dan berpegang teguh pada keikhlasan nurani semesta. 

Masih kurang berliku mungkin jalan ini, untuk ku dapat mengerti hikmah utama.Masih kurang panjang  mungkin jalan ini, untukku dapat melihat akhir semua. Masih kurang mendaki mungkin jalan ini, untukku dapat mempeluas cakrawala.

Tapi mungkin, ya mungkin yak, aku perlu berhenti sejenak, menarik napas dan rasakan angin yang bergerak, tuk dapat berteman dengan renungan dan sajak.
Jakarta, 30 Maret 2007

March 22, 2007

Pertanda

Filed under: coretan kataku — intankd @ 3:44 pm

Satu .

Dua ….

Tiga …..

……………..

Sepuluh ……

………………………..

Seratus ………………

…………………………………….

Seribu ……………..………………

…………………………………………………

Sepuluh ribu………………………………..

……………………………………………………………..

apalah artinya………………………………………………

bila hati tak mampu memaknai…. ……………………..

Jakarta, 22 Maret 2007

March 13, 2007

menjelang tidurku

Filed under: coretan kataku — intankd @ 6:13 pm

 Hening asamu

 dan bisikan angin lalu

 melukis tanya di hati biru,

 Adakah kata kan menjadi lagu?

February 28, 2007

empati yang terbatas

Filed under: Catatan-ku — intankd @ 5:10 pm

Seorang teman meminta telingaku untuk mendengarkan ceritanya, kuberikan. Ia meminta waktuku tuk duduk bersamanya, kuberikan. Tissue di meja pun kusodorkan tuk ia menghapus airmatanya. Mungkin ia juga mengharapkan empatiku, yang ternyata sungguh sulit kuberikan. Apakah aku tak berperasaan? Mungkin. Apakah aku tak pandai berempati? Barangkali begitu. 

Seorang diri kutelusuri hati mencari jawaban. Kubuka lembaran-lembaran lama tersimpan. Memang tak kutemukan empati dariku pada keluhan. Tak pernah ada empati pada keluhan yang diulang berulang-ulang. Tak ada empati pada hal ’kecil’ yang menurutku seharusnya bisa diatasi. Tak ada empati pada konsekuensi dari setiap tindakan. Tak ada empati pada kecemburuan atas keberuntungan orang lain. Tak ada empati pada sikap menyesali dan mengasihani diri. 

Kubuka lagi lembar yang lain. Ada ketakmengertian pada keluhan seorang tante tentang kesehatannya sementara ia selalu melanggar pantangan makanannya. Ada keheranan pada teman yang tak berhenti mengeluhkan tinggi badan sementara ia cantik, cerdas dan berada. Ada ketaksabaran pada teman yang mengeluhkan hal-hal materiil sementara begitu banyak orang yang jauh kurang secara materiil daripadanya. Ada berkelebat tanya ketika teman mengatakan ia sungguh terpuruk sehingga tak bisa melihat keterpurukan orang lain. Ada ’bukankah kau tlah tahu’ ketika teman menangisi akibat yang harus ditanggungnya. 

Lembaran berikutnya membantuku sedikit tuk menjadi lega. Ada kasih sayang ketika teman berpuasa sebagai bagian dari doa yang menemani usahanya melepaskan diri dari kesulitan. Ada cinta ketika seorang teman tertawa sambil menangis ketika terluka hatinya. Ada uluran tangan ketika seseorang menceritakan kepahitan hidupnya tanpa ’meratap’.  Ada hormat pada sepupu yang menolong orang lain meskipun ia sendiri kesulitan. Dan ada…ada saat ketika aku belajar untuk menjadi lebih peka, ada saat ketika aku berlatih untuk menjadi lebih peduli, ada saat ketika aku menerima nasehat temanku agar aku tak menggunakan standart yang sama pada setiap orang. 

Pada temanku yang membuatku menulis ini, maafkan aku bila semalam tak dapat memberimu empati setulusku. Maafkan ucapan ’aku tak mau dengar lagi’ ketika kau kembali membandingkan keberuntungan orang lain dengan kemalanganmu. Aku hanya ingin kau mengerti, ingin kau melihat lebih seksama, bahwa hidupmu sesungguhnya masih indah. Lihatlah sekali-sekali ke bawah, akan kau temukan orang-orang yang akan membuatmu lebih dapat mensyukuri apa yang kau miliki hari ini. 

Jakarta, 28 Feb 07

 

November 8, 2006

Sekedar Keinginan?

Filed under: Kos G Permai — intankd @ 12:06 pm

“Gw pengen belajar fotografi,” kata Miss Gembul suatu malam.Waaah, tumbeeen. Hobi yang mahal tuh.  Dapat ide darimana? ”Gw pengen aja merekam apa-apa yang gw lakuin, ato kalo lagi pas jalan-jalan, kan asyik, bisa punya foto yang bagus-bagus.”

”Iya juga sih,” sahut Miss Kutubuku, sambil senyum sendiri, mengingat dia juga pernah punya keinginan serupa.

“kalo lo mau, gw punya tuh, alamat kursusnya.””O,ya? Gw minta dong.”“Besok ya, di email gw soalnya.” 

Tapi besoknya, Miss Kutubuku lupa, juga besoknya, juga besoknya, ampe kemudian, “Miss Kutubukuuuuuu!!! mana alamat kursusnya?” Teriak Miss Gembul di YM. 

Haaaa??? Lupa, gw, keluh Miss Kutubuku dalam hati. Mana lagi sibuk begini, lagi.  

”Bentar yaaaa, after office hour yaaa,” balasnya.  

Kayaknya serius nih, Miss Gembul mo kursus, pikirnya, ampe nagih-nagih begini. tapi belum tentu juga, bantah suara hatinya yang lain. Lo juga dulu gitu kan? Udah ngomong ke temen yang jago foto untuk minta diajarin, tapi gak pernah nge-set waktu untuk belajarnya. Udah nanya-nanya alamat kursus segala, tapi gak pergi mendaftar juga. Sampai akhirnya keinginan lo itu mulai terkikis tak berjejak. Dan kayaknya bukan cuma satu keinginan lo yang nasibnya kayak gini. Banyak lagi keinginan lo yang lain, yang cuma diucapkan dalam hati, tapi gak direncanakan how to achieve it. Padahal kata orang bijak, gagal merencanakan, sama dengan merencanakan untuk gagal. Udah terbukti deeeeeh.  

Miss Kutubuku nyengir aja, ngedengerin suara hatinya ngomel. 

Sambil mengirim alamat kursus fotografi sore itu, after office hour, Miss Kutubuku berharap Miss Gembul sungguh-sungguh dengan keinginannya ini, tidak seperti dirinya, sekedar keinginan di awang-awang. Kan lumayan, gw bisa jadi modelnya, pikirnya PD, hehehehe. 

8 Nov 06

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.