catatan-ku

October 13, 2005

Rasulullah SAW dan seorang pengemis..

Filed under: Renungan — intankd @ 3:34 pm

=dari email seorang teman=

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalianakan dipengaruhinya”.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”. Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hamper tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”. Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana”, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?”. Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu.
“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

——–
“Ya Rasulku, betapa jauhnya aku dari ahlaqmu:(”

June 17, 2005

Gunung Jangan Pula Meletus

Filed under: Renungan — intankd @ 7:27 pm


Oleh Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?


Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.“Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!,” aku menyerbu. “Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.”

“Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?”

“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”

“Termasuk Kiai….”

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?”

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

“Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?” katanya.

Aku menjawab tegas, “Ya.”

“Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”

“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kapan pun!”

“Sampai mati?”

“Ya!”

“Kapan kamu mati?”

“Gila!”

“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang.
Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu tidak memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kamu menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!”

“”Aku ini, Kiai!” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter….”

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

“Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”

“Kewajiban apa?”

“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini…”-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-”Kupinjamkan dinding ini kepadamu….”

“Apa maksud Kiai?,” aku tidak paham.

“Pakailah sesukamu.”

“Emang untuk apa?”

“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”

“Sinting!”

“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”

Ia membawaku duduk kembali.

“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?,” ia pegang bagian atas bajuku.

“Kamu tahu Muhammad?”, ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia
menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia
bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?”

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke
belakang.

“Kiai,” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”

“Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin?”

“Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”

“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”

“Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”

“Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?”

“Aceh, Kiai, Aceh.”

“Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara-saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota
mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak”.

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”

“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati.”

“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?”

“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”

“Gusti Gung Binathoro!,” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”

“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri- maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”

“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”

“Alangkah dungunya kamu!” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur.”

“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?”

“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat.

Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan….”

“Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

“Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

“Kiai!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”

“Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Emha Ainun Nadjib Budayawan

Hancur Badan, Jangan Hancur Mental dan Iman

Filed under: Renungan — intankd @ 7:17 pm

Dari pengalaman dahsyat Aceh akhir 2004, mestinya bisa lahir sepuluh ribu puisi dan karya sastra lainnya, seribu buku neo-tafsir atas kitab-kitab suci, seratus buku ilmiah tentang sejarah manusia, serta sepuluh buku khusus geologi.

Tadi malam pada dua jam sebelum dan sesudah jam 00.00 yang terbaik dilakukan oleh manusia Indonesia yang punya otak dan hati adalah bertafakkur di tempat ibadah masing-masing, minimal di bilik sepi rumahnya. Kalau sudah terlanjur bikin acara, ya diupayakan yang kontemplatif dan hening. Kalau terpaksa nyanyi-nyanyi, diusahakan lagu yang tidak melanggar hati amat lembut penderitaan manusia yang sedang menderita. Diseyogyakan tidak joget-joget kecuali meraung-raung seperti suku Indian bersedih kehilangan kepala sukunya.

Kalau kesadaran dan kepekaan datang terlambat, sehingga tadi malam terlanjur berhura-hura, bertoet-toet, apalagi berfoya-foya – tidak masalah, asalkan pelakunya adalah orang bodoh.

Kalau engkau berangkat menjadi sukarelawan ke daerah duka di Aceh, siapkan fisik dan mental tiga kali lipat kekuatan biasanya. Bau sisa jasad para jenazah mengurungmu memerasmu mendekapmu menekanmu dan mencampakkanmu ke dalam rasa perih yang tak pernah engkau bayangkan sepanjang hidup. Medan amat sangat berat bagi fisikmu, hati dan perasaanmu, mentalmu, jiwamu. Mungkin juga engkau ikut hancur secara mental. Kalau itu terjadi, segera kasih waktu berapa hari kehancuran mental itu engkau ladeni, sesudah itu bersegera bersikap radikal kepada psikologimu sendiri untuk tegak kembali.

Kalau yang engkau alami adalah keguncangan dan kehancuran iman, ambil satu di antara dua pilihan. Pertama, resmikan bahwa engkau marah kepada Tuhan, tidak mengerti perilakuNya, kemudian memberontaklah dan jadilah atheis. Kalau tak mau ini, pilihlah yang kedua: belajar kembali kandungan-kandungan nilai Agama yang tidak pernah engkau dengar sebelum ini dari Ustadz dan Ulama manapun.

Jenazah puluhan ribu orang yang tidak menentu tempatnya, tidak utuh, sudah melembung, sudah lengket dengan benda-benda yang menindihnya – jangan difatwai agar ditata dengan rapi, dikafani dan dikuburkan satu persatu. Waktunya tidak cukup sama sekali, mayat tidak mau menunggu giliran, baru kemudian menghancurkan dirinya menjadi ludas.

Berapa ribu orang dibutuhkan untuk menata puluhan ribu mayat? Bagaimana caranya bisa sampai ke sana? Atas koordinasi dengan siapa? Kalau ada sebungkus makanan, jangan dibayangkan akan diberikan kepadamu terlebih dahulu, baru berikutnya adalah jatah ratusan ribu orang Aceh yang tersisa di daerah penuh derita jiwa raga itu.

Ketika Presiden Susilo datang ke sana, sejak menjelang siang ia datang baru makan nasi darurat pada jam 10 malam. Seharian hanya berbagi aqua dan orange dengan para Menteri dan semua pesertanya. Kalau engkau datang ke sana menjadi sukarelawan, jadwalkan tiga hari saja, sesudah itu berganti orang lain. Kalau tidak, engkau akan menjadi beban baru yang merepotkan.

Hari demi hari akan berlalu, aku persilahkan engkau jangan kaget jika lambat atau cepat akan menemukan berbagai ketidak-murnian iktikad dibalik riuh rendahnya ummat manusia menolong saudara-saudaranya di Aceh.

Tapi jika engkau menemukan ini, tetap jaga mulut, tidak usah menambahi orang bertengkar. Ini situasi takziyah, dan belum tahu kapan nuansa duka ini akan berakhir.

Jangan kaget kalau ada dua gejala. Pertama, tokoh ini atau itu memanfaatkan inisiatifnya ke Aceh untuk mencuri image, untuk menabung kampanye, membusungkan dada sebagai pahlawan dan menghancurkan lainnya agar jangan menjadi pahlawan. Tapi orang macam ini akan kecelik, ia akan mengalami bumerang, akan akan terjengkang oleh momentum kontra-produksi dan titik jenuh atas sesumbar kepahlawanannya.

Kedua, tidak ada sistem dan institusi yang solid untuk mengontrol amanat sumbangan dari seluruh dunia ke Aceh. Jangan gugup kalau ada korupsi,penyelewenan, manipulasi. Mohon dimengerti bahwa Presiden kita sendiri dalam menangani Aceh tidak berada dalam satu koordinasi dengan Wapresnya. Sekurang-kurangnya terdapat persaingan diam-diam di antara beliau berdua.

Dalam keadaan normal saja pemerintah kita, yang kemarin-kemarin maupun yang sekarang, tidak siap menangani maintenan dan logistik nasional bagi rakyatnya. Apalagi dalam keadaan darurat dan dengan tantangan problem yang terlalu besar untuk invaliditas pemerintahan kita.

Pelan-pelan harus kita mulai pahami beberapa hal berikut ini, yang dalam tulisan ini belum bisa saya uraikan secara panjang lebar karena keterbatasan halaman.

Pertama, tsunami itu sunnah Allah, bukan qudroh. Sunnatullah itu hukum alam. Ada siang ada malam. Ada rendeng ada ketigo. Ada kemarau ada musim hujan. Ada gravitasi. Ada susunan langit dan bumi. Ada lapisan bebatuan, struktur tanah, retakan, atau udun di perut bumi yang kalau muncul bernama gunung meletus. Ada metabolisme alam. Sebagaimana jasad manusia bisa kedutan, bumi juga kedutan. Kedutan di bagian bumi bisa mengakibatkan bergesernya cairan dan padatan, dan karena manusia sangat kecil maka ketika ia ditimpa pergeseran itu dirasakannya sebagai bencana besar.

Kalangan geolog Indonesia tertentu tahun lalu sudah memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada perilaku tsunami yang tidak kecil. Sekarang mereka mencucurkan airmata menyesali kenapa peringatan itu tak digubris oleh mereka yang berkewajiban atas keselamatan rakyat Indonesia.

Andaikan di bumi Aceh, Srilangka, bagian tertentu dari Malaysia, Maladewa, India, Thailand dll tak ada penduduknya, maka tsunami itu tetap juga terjadi. Anda jangan mendirikan rumah di tanah yang rawan, supaya kalau nanti tanah itu longsor dan rumahmu ambruk lantas engkau tidak berkata: “Ya Tuhan, apa salah saya?”. Salahmu adalah tidak memilih tanah yang bebas longsor. Jangan berbaring mengantuk sambil merokok, kemudian tertidur dan rokok membakar baju dan kasurmu lantas engkau mengeluh: “Ya Allah, kenapa Engkau mengadzabku”.

Qudroh adalah Tuhan menyikapi perilaku manusia secara spesifik sehingga mengambil keputusan yang sebenarnya tidak “terjadwal” dalam skedul sunnahNya. Tuhan marah kepada ummat Nabi Nuh dan Nabi Luth, lantas menciptakan gempa dan banjir besar. Bukanlah demikian yang terjadi di Aceh, sebab berdasarkan fakta sejarah dan batas akal sehat manusia -
inisiatif qudrah Tuhan yang demikian lebih proporsional untuk ditimpakan kepada kita, dan bukan kepada orang Aceh.

Jadi cemburulah kepada puluhan ribu rakyat Aceh yang diberi keringanan oleh Allah, diizinkan untuk tidak meneruskan keterlibatannya di dalam kehidupan yang tidak menentu di Republik Indonesia ini. Mereka dimerdekakan dari kebusukan hidup, kehinaan dunia dan sakit sejarah yang berkepanjangan dan sia-sia. Mereka disongsong Malaikat dan langsung disemayamkan di sorga berderajat tinggi. Jadi, ini bukan adzab Allah? Bukan atau belum?

Hati-hati memasuki tahun 2005, agar salamun hiya hatta mathla’il fajr 2009. Mari ambil cermin, pandang wajah dan kelakuan kita selama ini : disebelah mana dari wajah politik kita, kebudayaan kita, akhlak kita -yang tidak layak diadzab oleh Allah?****

(gue belum tahu, siapa penulisnya ya? dapat dari email siy)


Sunnah Aceh dan Qudrah Nuh

Filed under: Renungan — intankd @ 7:23 am

Kalau anggapan umum menyepakati yang menimpa adalah kehancuran atau kesengsaraan–sering disebut azab. Dalam bahasa Indonesia: azab adalah skala besar atau sangat besar dari musibah. Disebut juga malapetaka, bencana, marabahaya. Musibah dikonotasi-negatifkan, padahal sebenarnya ia netral: ia “sesuatu yang menimpa”. Tidak harus harta dirampok orang–dapat istri cantik jiwa-raga juga musibah.

Kata amal biasanya juga dikonotasi-positifkan, padahal artinya adalah “mengerjakan”. Dalam Islam, azab berbanding lurus denga kufur: tak tahu diri, menentang keharusan-keharusan logis dimata Tuhan. Lawan kata kufur adalah syukur. Orang yang pandai bersyukur dijanjikan mendapatkan tambahan rahmat dari Tuhan.

Bencana Aceh mendorong banyak rohaniawan berpikir tentang apa saja pembangkangan manusia terhadap Tuhan. Apa dosa kita? Apa saja sebab Tuhan sakit hati dan naik pitam. Ada ulama yang menyetarakan bencana Aceh hampir sama dengan yang dialami masyarakat Nabi Nuh atau Nabi Luth.

Muncul pertanyaan: benarkah Tuhan terlibat dalam bencana Aceh? Apakah rakyat Aceh diazab oleh Tuhan? Kenapa yang diazab bukan kita? Apakah mereka yang meninggal itukah yang diazab, sementara yang masih hidup tidak diazab? Kenapa metode dan strategi azab Tuhan bersifat gebyah uyah atau menggeneralisasi? Meskipun yang dipakai adalah gempa dan bah, tidakkah kekuasaanNya sanggup mematikan mereka yang durhaka saja?

Yang lain berpendapat bahwa sesudah Rasulullah MUhammad SAW, Tuhan tak mengazab seperti dulu. Yang lain lagi berpendapat, sesudah Muhammad SAW, yang dijamin tidak ditimpa azab adalah mereka yang “bersama” Muhammad SAW. Yang menghadirkan Muhammad SAW didalam hidupnya, didalam hatinya, pikirannya dan kesadarannya, jiwanya, konsep dan perilaku hidupnya.

Tuhan berfirman: “Dan tidaklah Aku mengazab mereka karena engkau (Muhammad) bersama mereka.” Itulah yang didalam budaya shalawat disebut ‘ilmul hadlarah’ atau ‘ilmul hudlur’ alias ilmu kehadiran, pengaruh, peran, keberlakuan nilai yang disampaikan oleh Muhammad SAW didalam kehidupan seseorang atau masyarakat.

Tuhan terlibat atau tidak, tanyakan ke para geolog. Tanyakan: apakah seandainya Aceh tidak ada penduduknya, tsunami tetap terjadi? Andaikan bumi ini tidak ada penghuninya, apakah gunung tetap meletus, apakah tetap terjadi retakan-retakan dilapisan bumi atau perubahan struktur bebatuan padanya sehingga menimbulkan guncangan?

Kabarnya tahun lalu seorang geolog telah memperingatkan bahaya tsunami 2004. Tanyakan lagi, apakah peringatan itu berdasarkan pengetahuan bahwa Tuhan akan marah kepada umat manusia sehingga menciptakan gempa dan luapan air samudra; ataukah ia mengetahuinya karena ilmu tentang sifat-sifat bumi dan alam. Karena ia memahami pola dan tradisi perilaku alam.

Pola perilaku alam disebut “tradisi penciptaan”, bahasa Arabnya sunnatullah. Sunnah nya Allah. Ketentuan baku atas ciptaan. Jangan meludah sambil menengadah, karena air ludahmu akan menimpa wajahmu sendiri atas dasar kepatuhannya kepada hukum gravitasi. Jangan duduk diatas kompor menyala, karena api itu membakar. Ada bisul namanya letusan gunung. Ada siang, ada malam. Ada musim, ada cair-padat, keras-lembut. Ada hukum relativitas, sampai transformasi dari materi ke energi cahaya–sampai apapun saja.

Kalau para geolog memastikan yang terjadi di Aceh itu bukan gejala alam biasa, melainkan mendadak saja terjadi, maka namanya bukan lagi sunnah, melainkan qudrah. Inisiatif khusus oleh Tuhan, mungkin jengkel sama manusia. Qudrah ini semacam mata kuliah ekstrakurikuler di kampus, seperti dana non bujeter atau lebih gamblangnya semacam pemberlakuan keadaan darurat militer pada skala Tuhan di Aceh.

Qudrah menimpa kaum Nuh dan Luth. Insya Allah tidak menimpa rakyat Aceh, karena dilihat dari segala sudut pandang dan dengan parameter apapun: kita lebih durhaka dibandingkan rakyat Aceh.

Sebuah pesawat penumpang, yang mesinnya kedaluwarsa, karena cuaca buruk dan kepanikan pilotnya, dipastikan akan jatuh. Tapi syahdan, Jibril melapor kepada Tuhan: “Ya Allah, izinkanlah hamba menyelamatkan pesawat itu, sebab diantara para penumpangnya terdapat seorang pecinta Mu yang berwirid memohon-mohon keselamatan para penumpang, tanpa ia menyebut keselamatannya sendiri.”

Ternyata Tuhan mengabulkan. Menurut logika konsiderans hukum, mestinya si pewirid diselamatkan dengan cara “solo-landing” dengan kursinya, dan pesawat dibiarkan tercampak ke bumi. Tetapi tidak, Jibril atas izin Tuhan menyelamatkan seluruh penumpang bersama pesawatnya–karena kadar cinta si pewirid mampu meredakan sakit hati Tuhan kepada para penumpang lain yang tidak pernah memosisikan Tuhan sebagai faktor primer di dalam hidupnya.

Kisah ini saya tutturkan tidak untuk Anda tanyakan tanggal berapa terjadinya dan siapa nama pewirid itu. Melainkan untuk menambah bahan pertimbangan agar kita tidak terlalu gampang menuduh Tuhan mengazab manusia. Seandainya benar Tuhan mengazab, tanyakan pada diri sendiri: kita bangsa Indonesia, dan utamnya para pengurus negara, sebenarnya tak layak diazab?

Juga cara, bentuk, atau formula azab Tuhan pasti tidak klise dan monoton saja: gempa bumi, banjir, epidemi, serta segala sesuatu yang bersifat terlalu fisik. Azab Tuhan bisa “kreatif”, misalnya berupa kesesatan pikiran, kebuntuan ilmu, kebodohan, dan malas belajar berkepanjangan untuk selalu salah memilih pemimpin, atau budaya korupsi yang sudah menjadi makan minum sehari-hari. Meskipun bisa juga agak komikal: Tuhan mendatangkan hambanya yang dalam konteks Jawa ber-wuku Batari Durga yang berpasangan dengan Batara Kalla. (EAN)

Blog at WordPress.com.