catatan-ku

August 3, 2007

Cibodas nee…

Filed under: Cerita-ku — intankd @ 12:14 pm

 Tgl 16-17 Juni kemarin gw jalan-jalan lagi dooong. Kali ini ama teman-teman yang sebagian besar tergabung dalam Komunitas Pengajian Laa tahzan (walaupun ini bukan acara-nya Laa Tahzan. Kita ke Cibodas. Temen gw si Gandi udah promo tempat ini sejak long.. long.. time ago. Jadi penasaran gw, dan akhirnya kesampaian juga, hehehe.

Janjian ngumpul di senmul jam 6 untuk kemudian   berangkat jam setengah tujuh, agar bisa nyampe cibodas jam setengah 9, trus jalan ke airpanas selama 4 jam, makan siang, turun lagi, diriin tenda, kemping deh. Sayangnya gw molor ampe setengah tujuh (hiks3. maafkan!), dan akhirnya kita baru bisa berangkat jam setengah delapanan (bukan Cuma gw yg telaaat), dan udah pasti, kena macet deeeeh. Nyampe Cibodas udah siang, hehehe.

Masuk kebun Raya Cibodasnya kita bayar tiket 2000/orang. Lupa, berapa harga tiket tuk mobulnya. Seingat gw, kita bayar Rp. 20500,- tuk tujuh orang dengan mobil avanza. Hitung sendiri yak! Dari pintu gerbang kita jalan lurus aja, trus  ketemu tempat parkiran mobil disebelah kanan jalan. Parkir, nurunin ransel, bawa apa yang perlu dibawa ke atas, seperti baju ganti buat yg mo main air, minuman, permen, makan siang (makasih buat panitia yg udah nyiapain ini semua ya. Biar acara kecil, tapi teteep, ada panitia, hehehe).

Mulai deh, kita jalan. Lho, kok masuk kanan? Bukannya lurus aja? ooh, rupanya kita sholat dulu.
Baru deh, kemudian kita jalan, ampe pos 1. disini bayar tiket tuk naik. Berapa sih bayarnya, Dev? Disini kita berhenti untuk makan siang, nasi padang yg udah di beliin panitia di warung padang (ya, iyyalah, di warung padang), makaciiih yaaa.

Baru deh, setelah itu, kita jalan beneran, menuju…hmmm tadinya mo ke air panas nih, tapi karena kita telat, gak cukup lagi waktunya kesana, akahirnya kita ke air terjun aja, yg lebih dekat. Yg bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Tapi buat kita… satu setengah jam! Abis kita banyak berhentinya, untuk foto-foto, hehehe. Liat deh, foto-fotonya, pada keren dan ceria kan?

 

 

 

 

 

 

  

 

 

December 30, 2005

Hebohnya outing I KLP2

Filed under: Cerita-ku — intankd @ 8:45 pm

(24-25 Desember 2005)

Sabtu pagi kita

Masih sedikit mengantuk waktu aku bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Hmmm, hari Sabtu begini, alangkah nikmatnya kalau bisa bangun lebih lambat (dasar suka tidur!). Tapi apa boleh buat, aku udah dengan penuh semangat mendaftarkan diri ikut outingnya KLP2. Gak mungkin batalin, apalagi hanya karena ‘masih ingin tidur lagi’, gubrak! Masih mending janjian ngumpulnya ternyata jam 8. makasih ya Ana, udah nelponin semalam. Aku jadi lega. Tadinya aku kira harus ngumpul jam 7 (huhuhuhu, masuk kantor aja jam 8, masih boleh ngaret 5-10 menit, gak perlu ngebis lagi, hehehe).Untung aja seperti biasa, air yang menyiram mengusir kantukku jauh-jauh. Aku jadi lebih bersemangat. Outing bo! Kumpul-kumpul ma teman-teman KLP, nge-game, en siapa tahu bisa jalan-jalan seputaran puncak, ngga cuma mendekam di villa aja. Ayo, ayo, do not be late.
Kukunci pintu kamar buru-buru, pakai sepatu, buka pintu kos. Wah, gerimis. Buka payung. Aku gak mau basah, gak mau pilek, walaupun jadi rada repot juga berpayung ria. Belum lagi waktu harus nyari dompet untuk membayar koran kompas yang kubeli didekat halte. Apalagi bis P20 udah datang sementara aku belum sempat menutup dompet, apalagi menutup payung, hiks.

Turun di terminal Senen, aku kembali berpayung sambil merasa heran, mengapa aku begitu bodoh tadi pagi memilih celana panjang putih untuk dikenakan hari ini, untuk kemudian tak berdaya membelanya dari percikan air hujan yang telah berubah coklat karena tanah. Huuf (narik napas lega), ada bajaj. Abang Bajaj, tolonglah bawa daku ke panti asuhan anak Muslim. Temanku MAW bilang letaknya di dekat bioskop Grand dan LP3I. Tidak jauh kan? Berapa ongkosnya? Segitu? Ok deh. Kita tidak akan terlambat kan? Kulirik arlojiku yang batrenya baru diganti kemarin jumat. Masih sepuluh menit lagi menjelang jam 8. Aku memuji diri sendiri atas prestasi ‘tidak akan telat’ ini. Prestasi yang agak jarang bisa kucapai kalau janjian, apalagi janjian di pagi hari. Weleh weleh.

Kurogoh-rogoh ranselku mencari HP yang menjerit-jerit. Wah, semoga bukan dari teman KLP yang mencariku karena aku telat. Ini belum jam 8 kan? Huuuf, ternyata dari Ila, memintaku datang kerumahnya karena nanti malam mo acara aqiqah anaknya. Yaaaaah, maafkan daku Ila, aku udah di Senen, mo ke Puncak. Bukan rezekiku bisa ikutan makan kambing sambil mengagumi wajah cantik putrimu nanti malam.

Nah, kayaknya itu deh, pantinya. Eh, ada Novian sama Iche di pagar. Gak salah lagi kalo begitu. Dan ternyata, aku orang ketiga yang datang, diluar MAW yang emang tinggal disini. Waaaah, padahal aku udah relain gak sarapan dulu tadi, demi jam 8 teng! (gaya abis ya, padahal kalo mau sarapan, bangun lebih pagi dooong). Tapi akhirnya aku nyempetin sarapan juga, bareng-bareng Novian, Iche dan Look Man (alias Luqman). Tentunya sambil ngobrol ngalor kidul sampe berada pada posisi yang ditungguin teman-teman hingga harus ditelponin agar segera balik ke Panti, hehehe.

Berangkat deh. Konvoi 3 mobil, Kijang-nya Nanank yang sepupunya Anank (begitu akrabnyakah kalian sehingga nama panggilan pun di-set nyaris sama?), Karimun-nya Bank Al dan Timor-nya MAW (terserah milik siapa, yang penting, ini mobil baru, gress, baru keluar dari gudang semalam, hehehe).

Jemput mbak Any dan segala perlengkapan masak memasak, makan memakan, tidur-tiduran (selimut dan kasur lipat) di Kelapa Gading. Tentunya pake acara mutar-mutar alias salah jalan untuk tidak mengatakan tersesat. Lalu ke rumah Ana dan mbak Dianing menjemput makanan (hehehe, jemput orangnya juga ding). Jadi merasa terharu dan berterima kasih sekali atas semua jerih payah mereka mempersiapkan segala yang harus dipersiapkan untuk acara outing ini, sementara dari awal sampe tadi malam aku gak mikir apa-apa, kecuali mengingatkan diri untuk jangan lupa bawa uang cukup untuk iuran dan keperluan pribadi. Makasih ya teman-teman….

Ok lah. Formasi udah lengkap. enambelas orang. Bank Al, Tetty, Novian, Luqman, Tyas, Mbak Any, Anank, Nanank, Milona, Yanti, MAW, Early, Ana, Dianing, Iche, dan aku:). Kami pun meluncur ke Puncak (seharusnya bukan meluncur ya, tapi mendaki). Perut udah kriuk-kriuk. Lho, tadi kan udah sarapan, pikirku bingung.Waaah, rupanya udah tiba waktunya untuk makan siang. Gak jauh lagi kan? Jemput mbak Ema dulu, temannya mbak Any yang udah berbaik hati mencarikan villa untuk kita. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Dan sekali lagi, pake acara salah markir mobil di halaman villa orang. Bank Al sampai geleng geleng kepala, hehehe.

Masuk villa, maka dimulailah semuanya. Nurunin barang-barang dari mobil, Tyas ngomongin uang villa (kayaknya seeeh) sama mbak Any dan Mbak Ema, ambil foto sekali dua, pilih-pilih kamar yang cuma dua sambil mendiskusikan akses ke kamar mandi yang hanya satu di dalam villa, geser-geser kursi dan meja, bentang-bentang tikar, duduk-duduk lurusin kaki, sholat-sholat, makan-makan. Makaaaaan. Sekali lagi makasih banget untuk mbak Any dan keluarga mbak Dianing dan semua yang berpartisipasi menyiapkan makan siang ini.

habis makan, kantukku mencuri-curi kesempatan untuk hadir kembali. Untunglah panitia minta kita untuk berkumpul. Duduk melingkar di tikar, kita nge-bahas acara untuk hari ini dan besok, plus kondisi keuangan. Mau nge-game sama mbak Any atau mo ke Taman Safari? Taman Safariiiiii, nge-gamenya nanti malam yaaa. Kalau mau kesana, harus sekarang, kata Anank. Lagi diskon bea masuk nih, sampai jam lima sore nanti. Kan Taman Safari lagi ultah yang ke-20. Asyiiiiik.
Cantiknya Harimau Benggala
Anggunnya si Burung Merak
Jenjangnya leher sang Jerapah
Seksinya Badak bercula satu
Panasnya percintaan Tapir
Semuanya, di Taman safari Indonesia

Sekitar jam setengah empat, kami sampai di Taman Safari. Dan dimulailah semua kekaguman itu. Tak berhenti ber-waaah, wooow, subhanallah, aduh cantiknya dan semua komentar lainnya untuk para makhluk Allah yang luar biasa ini (apalagi penciptanya). Coba lihat gajah itu, betapa besar dan kokohnya. Aku berdebar membayangkan gajah-gajah sumatra tumpangan para raja Atjeh dahulu, juga mereka yang telah membantu membersihkan Atjeh dari sampah-sampah tsunami. Tapi kenapa telinganya sepertinya sobek ya? Ada yg bilang bahwa itu mungkin disengaja, sebagai penanda dari TSI. Begitukah? Kalo iya, kasihan sekali :( .
Hey hey lihat. Itu Tapir. Mo ngapain? Eeeh, kayaknya mau kawin tuh. Berhenti, berhenti. Perhatiin yuuuk. Yaaah, kok gak jadi? Ditolak ya, ama betinanya? Penonton kecewa nih. Jangan-jangan, mereka jadi ogah karena kita tongkrongin begini ya? Takut fotonya diambil dan disebarin di dunia maya dan tak maya? Tapi, lihat deh, yang jantan maju lagi. Waaah, tidak menyerah rupanya. pantang mundur. Siiip. Jadi begitulah teman-teman, kami mengamati mereka bercinta, dari …….(titik-titik) sampai ……(titik-titik). Untung saja mereka tidak seperti anjingnya dr. Doolitle yang memprotes tuannya masalah amat mengamati ini, hehehehe.
Ooooh, perjalanan baru saja dimulai, tapi sudah begini hebohnya. Masih ada lagikah yang lainnya? Eeh, itu onta. Tapi kok badannya agak kotor berlumpur begitu ya? Hmmm, mungkin karena udah menempuh perjalanan jauh dari tanah arab sana kali ya, kataku sok tahu. Eh, tapi yang lain pada bersih-bersih kok. Berarti yang tadi belum sempat atau malas mandi aja tuh. Wah wah wah. Kayaknya ini onta pada pintar-pintar. Tahu aja kalau ada orang-orang yang baik hati dan tidak sombong di dalam mobil-mobil yang akan menyuapi mereka dengan wortel-wortel yang bahkan bikin Tyas ngiler (Tyas, peace!).

Tapi begitu memasuki zona hewan buas, aku jadi sensi kalo ada yang buka jendela, hehehe. Padahal pengen juga dapat foto-fotonya (Look Man, trims jeprat jepretnya ya. MAW, trims udah menyetir dengan penuh kesabaran dan memperhatikan keinginan penumpang. Mbak Dianing dan Tyas, seneng banget dengan kehebohan kita bertiga di kursi belakang). Addduh, aku langsung jatuh cinta melihat cantiknya harimau Benggala. Loreng-loreng orangenya sungguh mempesona. Andai kamu tidak galak, Har, aku mau deh, foto bareng kamu, hehehe.

Itu macan tutul ya? Rajin banget ya, ngecat tubuhnya jadi totol-totol gitu. Kayak si Zebra yang pesolek, ngecat tubuhnya hitam putih gitu. Kalah deh kita-kita yang cuma mewarnai rambut doang. Hehehe, ada burung hantu yang gaya abis. Bertengger di depan sarangnya sambil mengamati kita dengan mata belo’nya yang sering bikin dia jadi mirip professor sehingga dianggap sebagai burung paling pintar. Padahal enggak kan? Ayo ngaku!

Dan satu lagi makhluk mengagumkan kami lewati. Merak yang begitu anggun dengan warna warni tubuhnya yang begitu memukau, dari kepala ampe ekor. Sayangnya gak ada yang lagi pacaran, jadi gak ada yang mengembangkan ekornya. Kuciwa deh daku. Dan itu jerapah. Cewek-cewek yang bangga ama leher jenjangnya terpaksa harus nyerah deh, ama yang satu ini.

Wooo, Bison. Gedhe banget. Ya ampuuun itu. Badak itu. Seksi banget. Lagi munggungi kita. Yakin deh, seksi! Kalau gak percaya, lihat aja fotonya yang sukses diambil Look Man. Wih wih wih, jangan marah ya. Fotomu tidak akan kami salah gunakan kok.

Orang utan, kambing gunung, cheetah, beruang, dan lain-lain, dan lain-lain, sungguh menyenangkan. Tapi kasihan banget liat elang yang kakinya diikat, kehilangan kemerdekaannya, hiks..hiks..hiks.

Udah jam setengah lima. Sholat yok! Abis sholat, giliran kita-kita yang difoto, biar gak ngiri sama makhluk-makhluk cantik tadi, hihihi. Gak lupa semua pada nonton lagi film tapir bercinta. Taman Safari lautan asmara, hihihi. Payah nih kita, film beginian nontonnya di depan masjid, lagi. Weleh weleh.

Masjid TaawwunPuas gak puas, udah hampir jam enam sore. Kita semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Masjid Taawwun. Masjid di puncak. Mo sholat maghrib disana. Aku pikir itu masjid biasa (emangnya ada, masjid biasa?). tapi subhanallah, masjidnya cantik sekali. Arsiteknya siapa ya? eksteriornya bagus, interiornya bagus. Ada kolam ikan lagi, di dalamnya. Rasanya begitu natural. Uh, rame banget orang kesini ya. Padahal, dinnggiiiiin. Banyak banget warung-warung yang bikin perut tambah kenceng nyanyiin keroncong dan kerongkongan makin merindukan tetesan air hangat.Abis sholat, yang minum kopi, ya minum kopi. Yang makan indomie, ya makan indomie. Nikmat banget, dingin – dingin begini. Dan tentu tak ketinggalan jagung bakar. Jagung bakar manis, jagung bakar pedas, jagung bakar manis pedas, sambil minum sekoteng. Ngobrol sana ngobrol sini, hahahahihihihi. Hm…, nikmatnya hidup ya Allah, alhamdulillah, segala puji bagi Engkau. Serasa tak ingin berhenti. Tapi hidup harus bergerak. Waktu tak membeku. Maka kami pun kembali ke mobil, meluncur kembali ke villa.

Untuk tidurr? Tentu tidak!
Malam minggu kita

Para ibu atau teman-teman yang keibuan atau yang sangat memperhatikan kesejahteraan teman-teman, segera beberes menyiapkan makan malam. Yang lain, copy mengcopy foto, dan kembali nonton artis yang lagi naik daun, pasangan Tapir! (sebesar apa ya daunnya?). Yang lain, langsung bikin lingkaran, main truf! Hehehe. Saking asyiknya, bahkan sampai lupa makan. Bahkan tak perduli pada keluarga bahagia dadakan yang lagi makan malam bersama di meja makan, ayahanda MAW, ibunda Dianing, ananda intan dan yanti. Tapi semua langsung bubar menyerbu keluarga bahagia ketika keluarga bahagia akan difoto. Mau ikut difoto juga. Wah wah wah, dasar!

Udah jam sebelas malam. Katanya mo nge-game? Psikolog kita, Mbak Any udah siap-siap aja untuk ngefasilitasi. Tapi dasar cah-cah ki susah dikumpulin. Harus ‘diobrak abrik’ dulu, hehehe. Apalagi Iche dan Anank masih asyik ngobrol ama jailangkungnya. Ahhh, akhirnya ngumpul juga. Mulai juga game-nya.Pertama, kita dibagi jadi tiga kelompok, trus tiap kelompok dibagiin satu kertas HVS. Tugasnya : coba buat lubang di kertas ini yang nantinya bisa melewati tubuh seluruh anggota kelompok. Waaaah, bagaimana bisa? Kan ini cuma kertas HVS? Maka mulailah wajah-wajah berpikir atau pura-pura berpikir bermunculan. Tangan-tangan mulai bergerak mereka-reka dan menggunting kertas, hingga akhirnya, Novian cs keluar sebagai pemenang. Bagaimana pemecahannya? Rahasia ya, hehehe.

Sebagai pemenang, mereka boleh memilih kado duluan. Baru kemudian kelompoknya Bank Al, terakhir kami, kelompoknya MAW, hihihi. Tapi gpp kok, yang penting dapat hadiah, kata MAW. Emang iya! Aku seneng banget dapat mug, warna biru, lagi. Makasih ya teman, makasih, makasih. Ada yang dapat payung (ehem), pigura, cd case, obat nyamuk HIT, kalender, dan lain-lain. waaaah, pokoknya rame deh. Lihat aja fotonya nanti, yg pada pameran kado:).

Puas sudah.
Masih mau main?
Mauuuu.
Nah, agar kita bisa mengenal diri kita dan teman-teman kita, mbak Any membagikan quisioner yang harus kita isi dengan sejujurnya (oooh, betapa beruntungnya kita punya mbak Any. We love U, mbak). Pokoknya seru deh yang ini. Kita jadi tahu kenapa diantara kita ada yang rajin mikir ampe sedetil-detilnya, kenapa ada yang perasa alias sensitif banget, kenapa selalu ada teman yang ngambil inisiatif, ada yang emang bawaannya selalu kalem, damai, peace! Wah, pokoknya dijamin rugi deh, yang gak ikutan, hehehe.

Udah jam satu nih. Bubaaar. Ada yang makan (lagi?), ada yang sholat, ada yang langsung ambruk tidur, bahkan ada yang ngobrol ampe pagi ya? Eh, kayaknya ada permainan yang belum aku ceritaiin ya, apa ya? Lupa nih.
Game lagi

Ini pagi yang seru. Sangat seru dan seru. Mulai dari ngantri dan rebutan kamar mandi yang cuma satu-satunya, yang berenang di kolam depan villa, sarapan nasi goreng, menikmati buah alpukat, ngobrol hahahihi. Pokoknya gak nyesel deh daku bangun pagi (setengah tujuh masih pagikan? Hehehe).
Tapi yang paling seru adalah ketika kita nge-game lagi. Gamenya macam-macam deh. Yang paling seru adalah lomba pindah sarung. Apalagi ketika ada yang ehem-ehem, bersarung berdua hihihi. Apalagi ketika akhirnya kita dibagi jadi dua kelompok (dari yang tadinya lima kelompok). “Apa hukuman untuk kelompok yang kalah?” tanya mbak Any.
“Cuci piring!” sahut mbak Dianing.
“Ya, yang kalah cuci piring,” mbak Anik langsung nyambar.
Wah wah, aku yang gak kebagian kelompok jadi merasa beruntung gak ikutan, hahaha. Cuma motret aja. Tanpa resiko:). Lihat tuh, wajah-wajah mereka jadi tegang, hihihihi. iyalah, siapa yang mau tiba-tiba jadi pembantu? Hehehe. Yak. Mulai!
Sarung kelompok satu dimulai dari Uni Milona, dengan cepat langsung pindah ke bank Al disebelahnya, langsung pindah ke berikutnya ampe ke ujung. Kelompok kedua dimulai dari MAW, pindah ke tetty, trus ke ujung, dan pemenangnya adalah…: kelompok satu. Huahahaha, MAW langsung duduk menyembang-nyembah. Dan kurasa mbak Dianing menyesal mengajukan usul cuci piring, karena sekarang dia yang justru harus cuci piring, hahahaha. Sementara kelompok satu duduk-duduk tenang bagai tuan dan nyonya yang tiba-tiba dapat kiriman pembantu tujuh orang, Kecuali Uni Milona yang tetap aja berbaik hati membantu menyapukan villa. Tapi salut deh, liat kerja samanya teman-teman, baik ketika nge-game, maupun ketika bersatu padu menjalani kerja paksa cuci piring dan bersih-bersih, apalagi yang bersantai sebagai tuan dan nyonya:).

Apakah bubar? Beluuum. Masih ada lagi! Kali ini MAW meminta kita mengenalkan diri ke teman-teman dengan mengasosiasikan diri kita dengan hewan atau tumbuhan atau alat dapur tertentu. Gubrak! Alat dapur? Kok alat dapur seeeh. mana aku tahu? Tapi seru deh. Lucu aja, misalnya ketika Anank bilang paling suka ama kelinci. Ya ampuuun, kan bakalan disate tuh. “Tapi kan kelinci itu sensitif, seperti saya juga,” kata Anank bersikukuh.

Uni Yanti, suka ama gajah. Ingat Ganesha kan? Dewa kebijaksanaan, lambang ilmu pengetahuan, kan jadi lambang ITB juga tuh. Bagi Uni Yanti, hidup adalah proses pembelajaran yang tak akan pernah berhenti. Bener juga ya. Dan emang deh, kayaknya cocok tuh ama dirinya yang suka banget mikir serius dan menganalisa.

Nah, kalau mbak Dianing tuh, milih burung kutilang. Selalu menggembirakan, banyak yang sayang. Dan yang namanya burung, kemanapun pergi, akan selalu pulang ke sarangnya pada sore hari. Hidup gak neko-neko banget. tapi kalo kata Mbak Any, cocoknya tuh mbak Dianing ama cucakrowo, hihihi.

Kalau Uni Milona, jadi bingung mo milih hewan apa. Tapi katanya paling suka ama Doraemon. Sukaaa banget. Soalnya Doraemon punya kantong ajaib. Lho, berarti kami boleh minta apa saja dong, pada dirimu?

Kalau Ana, seneng milih pudel. Manja, gitu lho! Emang manja, kata kakaknya, mbak Dianing, hihihi, ketahuan deh:). Mau tahu Mbak Any? Kata Mbak Any, ibunya pernah bilang kalau dirinya seperti kijang, melesat kesana kemari. Wah, susah ditangkap dong mbak?

Tetty bilang, dia suka kuda, pas dengan shionya. Kuda itu liar, katanya (harap maklum kalo kita-kita langsung tertawa sambil menggoda). Tapi emang sih gak salah. Kuda itu kan melambangkan keanggunan dan sekaligus ketangguhan.

Bank Al, ngaku bingung. Soalnya dia gak pernah mikir untuk mengasosiasikan dirinya dengan apapun. Tapi karena harus, dia pilih bunga yang baru ditanamnya di taman rumahnya. Dia namakan bunga itu eight clock flower, soalnya baru ngembang setelah jam delapan. Sama seperti dirinya, yang baru bangun setelah jam delapan jam 8 (kalo libur), dan pasti berseri-seri:).

Early memilih kucing. Waaah, kucing kan suka dimanja, suka disayang dan dipeluk. “Emang iya,” katanya. Sekali lagi harap teman-teman mengerti sendiri betapa hebohnya kita-kita pada waktu mendengar ini.

Beda dengan Early, Tyas milih singa. Singa dengan superioritasnya yang jelas, tegas, dan komit pada tujuan. Nah, kalo Look Man, sama dengan Tetty, milih kuda yang melambangkan keanggunan dan sekaligus kekokohan. Kompak banget Look, mentang-mentang se-KKn ama Tetty.. :)

Novian juga bingung kalo harus nyari hewan dan tumbuhan. Katanya, yang jelas dia sangat terkesan pada dioda. Yang elektro pasti tahu nih, apa itu dioda. Dioda itu bisa maju dan juga bisa mundur, tp kalo mundur berlebihan pasti rusak. Begitu pulalah dengan Novian. Berarti, pantang mundur dong Nov?

Terakhir, MAW, yang suka banget ama mawar, terutama yang berwarna kuning dan putih. Indah, harum, simbol ketulusan, kasih sayang, cinta. Begitupun, mawar mampu melindungi dirinya dengan batang berdurinya. Jadi… hati-hatilah dengan MAW, hihihi.

Oya, kalau aku ya, sesuai aja dengan id emailku, elang_timur. Ama elang yach! Dari dulu aku udah seneng banget ama hewan yang satu ini, lambang keberanian dan kemerdekaan, hehehe.
Gunung Mas

Selesai sudah. Akhirnya kita kali ini benar-benar beberes. Sholat dhuhur berjamaah. Angkut – angkut barang ke mobil dan kemudian bersenang-senang menuju kebun teh Gunung Mas. Hujan yang turun tidak mengurangi kegembiraan, walaupun kita tidak bisa turun dari mobil untuk berjalan-jalan dan berfoto diantara pucuk-pucuk teh. Tapi tidak masalah. Karena kita masih bisa putar-putar sampai si kijang merah membawa timor dan karimun putih ke jalan buntu, hihihi. Akhirnya kita stop dan nongkrong di kafe kebun Mas, menikmati pemandangan sambil minum teh hijau dan teh hitam, bersama pisang goreng hangat. Hmm, sekali lagi, ini kenikmatan hidup yang harus dan harus disyukuri. Belum lagi, canda dan tawa, teka teki lucu (still remember katak yang terinjak dan yang melompati sungai kan?).
Akhirnya, tiba waktunya pulang. Sudah jam 4 sore. Kita masih harus ke jakarta. Ayoo, pulang ke jakarta. Salam-salaman, peluk-pelukan, semoga habis ini kita semakin akrab dan dekat, bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, amin. Daaaaah…. makasih makasih Novian, Tyas, ana, mbak Dianing, mbak Anik, MAW, semuanya, semuanya. Thanks to you, love for you all :) . See you in the next KLP outing!

Jakarta, 27 Des 05

 

September 14, 2005

Enas’s Birthday

Filed under: Cerita-ku — intankd @ 6:30 pm

I Hate This Hotel!

I hate this hotel!”
Begitu kata Noomee begitu keluar dari kamar Enas. Aku tertawa mendengarnya. Tidak sampai lima menit yang lalu dia bilang, “Ooh, what a good hotel!”
Aku setuju dengannya waktu itu. Benar-benar hotel ini berusaha memberikan pelayanan terbaik pada tamu-tamunya. Hanya saja, kali ini kami merasa didahului, hehehe. Bingung juga jadinya.
Beberapa menit yang lalu Enas meneleponku dan Noomee, meminta kami untuk datang ke kamarnya. “Only one minute, please,” katanya, mungkin mempertimbangkan bahwa kami harus segera bersiap-siap untuk acara makan malam yang diadakan kantor jam setengah sembilan nanti. “I want to show you something,” katanya tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

Show me something? Apa itu? Tidak mungkin souvenir dari Mesir lagi, seperti yang sudah dia berikan pada kami semua. Baik amat ya dia, repot-repot bawain oleh-oleh dari negrinya untuk dibagikan kepada para peserta training yang lain.

Ketemu Noomee di lift, kami saling mengangkat bahu tak mengerti, apa yang akan ditunjukkan Enas. Wah, padahal kami tidak punya waktu banyak. Kami harus segera turun ke lobby hotel, membeli kue tart dan mungkin bunga, sebagai kejutan untuk ulang tahun Enas hari ini. Kami pilih bunga, karena kami tidak yakin apa yang dia sukai sebagai hadiah ulang tahun. Kue tart, tentu saja agar bisa tiup lilin dan dinikmati bersama teman-teman yang lain, hehehehe. Seharian ini kami sudah pura-pura lupa dan tidak tahu tentang ulang tahunnya.

Tapi ternyata, alamak! Enas menyambut kami di pintu kamarnya dengan wajah sumringah. “You see!” katanya penuh kegembiraan. Black forest dengan tulisan ‘Happy Birthday’ada dimejanya, bersama rangkaian bunga yang cantik sekali. Tidak cukup itu, sekeranjang mawar merah yang ditata hingga berbentuk hati juga diletakkan dimeja samping tempat tidurnya. Woooow.
“from who?” tanya kami.
“From the hotel,” jawab Enas. “I asked them before I called you both.”

Aku dan Noomee saling pandang, tak tahu harus bagaimana. Senang dengan kegembiraan Enas, tapi…., bagaimana dengan rencana kami? Ah, lupakan dulu itu. Kusalami Enas dan kupeluk. “ Happy birthday Enas,” kataku sambil membisikkan sekilas doa. Noomee melakukan hal yang sama, sambil matanya tak lepas memandangku. Bah! Sekarang dia tentu berpikir bahwa kami benar-benar lupa dengan hari ulang tahunnya, bahwa kami baru saja tahu, dari pihak hotel pula. Pusiiiiing.

Enas menawarkan apakah kami mau menikmati black forestnya sekarang? Waaah, waktunya nggak cukup nih. Kami harus segera meninggalkan kamar Enas dan mendiskusikan akan bagaimana selanjutnya. Berbagai alasan pun dikeluarkan. Akhirnya Enas sepakat agar kue tart-nya harus menunggu untuk bisa dinikmati. Kami pun segera buru-buru keluar dari kamarnya. “Daaag, see you at eight fifteen in lobby.”

Dan sekarang disinilah kami – aku dan Noomee – berdiri bingung di depan lift. Bagaimana dooong?

I Love This Restaurant!

“Enas, Happy birthday,” kata penyanyi di atas panggung, yang menyambungnya dengan menyanyikan lagu Happy birthday, tentu saja diiringi tepuk tangan kami semua di meja makan yang panjang ini. Lumayan juga, tepuk tangan enambelas orang.“Oooh, my God,” kata Enas terkejut sambil memandang kami semua.
Noomee muncul dan meletakkan kue tart didepannya, bertuliskan ‘Happy birthday Enas’, dengan dua lilin kecil menyala di atasnya. Enas masih tertawa dengan wajah tak percaya. Tapi dia cepat menguasai dirinya, berdiri dan meniup lilin ketika lagu berakhir, diiringi tepuk tangan yang ramai dari kami semua. “Make a wish!” kata Behrooz sambil memotretnya.

“Congratulation Enas,” kata Noomee sambil memeluknya.
“Oooh, Noomee, thank you,” sambutnya gembira.
“And, this is a gift from all of us,” kataku sambil memberikan kotak kecil ke tangannya, mencium pipinya kiri kanan.
“Oooh, thank you Intan, It’s really my day,” katanya memelukku. Kuharap dia akan suka dengan hadiah ini, yang dipilih dan dibeli dalam ketergesaan.
“Oooh, it’s so nice,” katanya begitu membuka kotak hadiahnya, mengelurkan sebuah kotak perhiasan mungil berukir yang cantik. “I like it very much. Ooh, thank you so much for you all.”

Belum cukup, sebuah kartu ucapan yang cantik diberikan padanya. Benar-benar dia terlihat gembira membaca tulisan teman-teman semua untuknya di kartu itu. Aku jadi senang.

Pelayan datang membawa piring-piring kecil. Noomee membantu Enas memotong dan membagikan kue tart tersebut kepada semuanya. Untuk Berny, koordinator training, dan istrinya. Untuk Jose, salah satu instruktur training, juga untuk istrinya. Dan tentu saja untuk semua teman-teman. Aku menarik nafas lega. Alhamdulillah, Akhirnya lancar juga. Masih terbayang kekacauan-kekacauan sebelumnya, hehehe.

19.00 :
Pihak hotel tempat kami menginap telah mendahului kami memberikan kue tart dan rangkaian bunga pada Enas, membuat aku dan Noomee jadi bimbang sesaat, harus bagaimana. Akhirnya kami putuskan untuk tetap membeli kue ulang tahun dan mengganti rangkaian bunga dengan sebuah hadiah.
19.10 :
Tidak ada kue yang masih utuh di cafe hotel. Semuanya sudah dipotong-potong. Dalam hati sedikit menyesal juga, mengapa tidak memesan kue tart dari kemarin? Lagi-lagi deh, in the last minute.com method:(. Tolong di cek dong, masih ada persediaan kue yang utuh nggak? “Ok Mam, I’ll check it,” katanya. Kami bergegas ke Hotel Shop sembari nunggu dia nge-cek.
19.20 :
Bingung milih-milih hadiah di Hotel Shop. Apa ya? Yang ini? Noomee menggeleng. Yang ini? Aku menggeleng. Yang itu? Mahal pisan! Kalau yang kecil mungil ini? Hmm.. boleh juga, tapi Noomee masih ragu. No time, euy. OK-lah, balik dulu ke cafe, nge-cek kue.
19.30:
bener-bener gak ada lagi kue yang masih utuh. Terpaksa kami memilih salah satunya, kue keju dengan strawberry diatasnya. Walau sudah terpotong jadi delapan bagian, paling tidak setiap potongannya masih utuh, sehingga bentuk bundarnya masih kelihatan. Anggap saja kita ingin mempermudah Enas dengan membantunya memotong kue ini terlebih dahulu, pikirku geli. Bungkus!
19.40:
Gak ada waktu lagi. Noomee dan aku akhirnya sepakat tentang kado kecil ini. Masih kepikir juga, dengan uang segini pasti bisa dapat hadiah yang lebih bagus di luar hotel. Yah, waktu emang mahal. Tapi ini juga bagus kok, pikirku menghibur diri. Tak lupa ambil kartu ucapan, nulis ucapan selamat dan doa, Noomee dengan lincah menggambar kartun Enas disitu. Emang pintar menggambar nih temanku.
19.50:
Mengetuk kamar Ali Dalir. Mo nitip kue tartnya, biar dia yg bawain. Kalo aku atau Noomee yang bawa ke restoran, bisa ketahuan deh ama Enas. Sekalian kartunya, agar diisi ma dia. Juga ma teman yang lain. Alamak! Dia udah rapi banget. Kami masih lecek begini. Gak sempat mandi nih:(.
20.15:
Ditelpon Noomee. Semua udah pada ngumpul di lobby hotel. Alamak, aku jadi panik. Bergegas keluar kamar. Aduh, kunci laptop ketinggalan, balik lagi. Menyambar kunci di kasur, keluar lagi. Aduh, kadonya mana? Balik lagi deh. Masak kado yang udah dicari dengan susah payah ini mo ditinggal sih. Duh, lilinnya mana ya? Kok cuma korek apinya aja yang kelihatan? Tapi gak ada waktu lagi. Aku hanya bisa berharap semoga lilinnya udah masuk ke tas mungilku. Huuf.. kacau banget sih daku.
20. 40:
Sampai juga di restoran ini. Aku merogoh tasku mencari-cari lilin kecil yang tadi kami minta di cafe hotel. Walau cuma lilin kecil, lumayanlah, ada yang bisa ditiup. Tapi nihil, aku tidak menemukannya. Dengan perasaan bersalah dan kecewa, kubisikkan hal itu pada Noomee. “What?” katanya. “Are you sure?”
Enas memandang kami ingin tahu.
22.30:
“What happened?” tanya Enas melihat Noomee bolak balik berbicara dengan petugas restoran.
“I have a problem. But I can’t tell you now.” Jawab Noomee dengan cueknya. Padahal dia lagi pusing tujuh keliling. Kue keju yang tadi dititipkan ke pelayan restoran, ternyata sudah hancur berantakan. Setiap potongannya terpisah dengan suksesnya, strawberri diatasnya sudah jatuh tak beraturan lagi. Pokoknya, hilang bentuk! Entah kapan terjadinya. Apakah ketika masih ditanganku, ditangan Ali, atau ditangan pelayan restoran, atau kombinasi semuanya? Tapi begitupun, pihak restoran langsung meminta maaf dan berinisiatif untuk menyediakan kue yang baru. Bayangkan, dari kue yang sudah terpotong-potong akhirnya kami punya kue ulang tahun utuh dengan tulisan ’Happy birthday Enas’. Ooh, I love this restaurant! Benar-benar mereka berusaha memberikan pelayanan terbaik pada tamunya. Good service!

Dan sekarang, senangnya hati melihat wajah Enas yang gembira. Happy birthday my friend. Wish Allah bless you forever. Amin.Abu Dhabi, 14 September 2005

September 1, 2005

Keramahan Indonesia

Filed under: Cerita-ku — intankd @ 8:30 am

Kutemukan keramahan indonesia

“Can I have some noddle egg? And please, put only a little vegetables in it.”
“Mam, are you Indonesian?” jawab diujung sana.
“Yes, I am”, jawabku sambil mikir, ‘how do you know?’
“Oh, and I’m Indonesian also. Apa Kabar Ibu Dewi?”
“Oh, baik,” jawabku gembira. “Senang sekali bisa berbahasa Indonesia disini.”
“Ah ya, saya juga. Saya lihat-lihat ini, ternyata tamu dari Indonesia. Jadi, noddle egg tanpa sayur, Bu?”
“Ya, makasih. Sedikit sayur bolehlah. Saya tidak begitu suka sayur.”
“Baiklah. Ada lagi Bu? Jus, mungkin?”
“Tidak, terima kasih. Saya sudah buat teh disini.”
“Ah, kan tidak apa-apa. Jus mangga mungkin? Atau orange? Ini dari saya, Bu,”
“Oh, baik sekali. Baiklah, jus mangga kalau begitu. Terima kasih sekali Pak,”
“Sama-sama Bu,”.
“Dengan bapak siapa ini?”
“Saya Poltak, Bu.
“Pak Poltak? Kalau begitu kita tetangga dekat. Saya dari Aceh, Pak.”
“Oh, begitu Bu? Senang sekali. Baiklah Bu, Silahkan hubungi saya kalau Ibu ada perlu apa-apa. Saya di room service.”
“Ya, terima kasih sekali Pak Poltak.”
Telepon kututup dengan hati senang. Senang dengan keramahan sesama orang Indonesia di negri seberang. Sama dengan rasa senang yang muncul setiap kali bertemu orang Aceh di belahan lain Indonesia. Atau seperti rasa senang bertemu orang sekampus, atau yang se-organisasi, atau yang se- se- lainnya. Senang dengan rasa kebersamaan yang tercipta. Rasa itu selalu ada, padaku. Apakah bagi orang lain juga? Entahlah. Bagaimana dengan Anda?

Menanti pesanan datang, aku teringat dengan supir taksi kemarin. Dia asal Pakistan, katanya menjawab pertanyaan kami. “And where are you from?” katanya balas bertanya. “Thailand,” kata temanku.
“And you?” pada teman lainnya.
“Egypt”.
“You?” katanya padaku.
“Indonesia”, jawabku.
“Oh, Indonesia? Good. Indonesia is good,” katanya sambil tertawa dan mengacungkan jempol.
Apanya yang bagus? Pikirku tertarik.
“What is the special thing of Indonesia?” tanya temanku yang dari Thailand. Hm, dia punya pertanyaan sama denganku:).
“Well, Indonesia is good,” jawabnya mengulang, tak menambah keterangan.

Apakah keterbatasan kosakata yang membuatnya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, ataukah dia memang tidak punya gambaran yang sebenarnya tentang Indonesia? Aku tidak tahu. Diam sambil menimbang-nimbang. Apa dia tidak tahu bagaimana Indonesia? Zamrud Khatulistiwa yang tak habis dirundung malang? Bagai sesosok tubuh yang terbaring di meja operasi dengan begitu banyak penyakit ditubuhnya, sehingga tim dokter bingung harus memulai dari mana. Oooh, Ibu Pertiwi, tidakkah wajah cantikmu telah ternoda dan cacat? Keindahanmu tertutupi oleh korupsi, teroris, bencana, penyakit, ancaman disintegrasi, dan seribu satu lagi yang lainnya.
Ataukah memang keharumanmu tak terganggu? Kecantikan dan keunikan tiap jengkal pulaumu masih menarik hati setiap insan bagai magnet? Kekayaanmu tetap mengundang para pemburu? Keramahan pendudukmu masih mempesona? Hm ya, mungkin yang dia maksudkan adalah keramahan penduduknya? Mungkin dia selalu punya pengalaman bagus dengan penumpang dari Indonesia? Atau dia punya beberapa kenalan orang Indonesia yang selalu baik dan ramah? Aku tersenyum sendiri mengingat ucapan seorang teman dari Oman, lebih dari dua tahun lalu, yang bilang, “Intan, you are so kind and friendly, and always smile.”
Kujawab, “Oh, most Indonesian people are very kind,” tentu saja sambil tersenyum (lagi).

Yah, masih banyak yang kita punya, yang harus kita syukuri. Termasuk, keramahan sebagai bangsa, yang masih bisa ditemukan di tanah Arab ini.

Note:
Pak Poltak yang merupakan asisten manager di Room Service hotel tersebut bukan hanya mengirim jus mangga, tapi juga begitu banyak buah-buahan yang kemudian kunikmati bersama teman-temanku, dan bukan cuma sekali. Masih kunikmati juga keramahan serupa dari salah seorang petugas house keeping asal Ciganjur, Jawa Barat. Membuat iri beberapa teman, sambil bercanda mereka bilang, ‘Oooh, andai aku juga orang Indonesia’ :) .

Abu Dhabi, 1 September 2005

June 28, 2005

Mabit ala Laa Tahzan

Filed under: Cerita-ku — intankd @ 9:13 pm

Sabtu, 25 Juni 2005
Asyiiik, Sabtu, bisa malas-malasan sepuas hati, hehehehe. Tapi klik,
satu lampu menyala di pikiranku. Mabit euy!!! Wuaaaah, harus bangun
nih. Rada-rada malas, aku bangkit juga dari kasur yang nyaman. Namun
sekelebat muncul bayangan asyiknya Mabit pertama Laa Tahzan. Langsung
aja jadi semangat, gembira. Cepat-cepat deh. Mandiiiii, udah siaaang,
jangan sampai terlambat, janjian ngumpul di Sentra Mulia building jam
sembilan bo!
08.00 ­ 10.00
Sari Sms, bilang mo singgah ke kantornya dulu, mo nge-print susunan
acara. Kemarin gak sempat. Ok deh.
Ruslan nelpon, minta maaf, tiba-tiba ada urusan mendadak yang gak bisa
ditinggalkan, jadi gak bisa ikut mabit deh. Yaaaah, kecewa niiiih.
Ernovipun kemudian berkabar ria, gak bisa ikut. Yaaaaah, kecewa lagi
deh. Tapi, itulah untungnya di Laa Tahzan (jangan bersedih), hati bisa
langsung diswitch jadi gembira lagi. Just click on the happy button,
select the happy face, yes!
Gandi SMS, udah di Plaza Kuningan, katanya. Lho, kok di Plaza
Kuningan? Sambil jalan kaki ke Sentra Mulia kucoba nelpon Gandi, tapi
HP nya sibuk. Nelpon Jayanti aja deh. “kami udah di Senmul, Kak, di
17, Aku, Gonata, Rini,” katanya. Siip. Nelpon Gandi lagi, “aku otw ke
senmul, “katanya. Hehehe, rupanya Gonata udah reconfirm lagi ke Gandi
kalo kita janjian ketemu itu di senmul, bukan di Plaza Kuningan.
Ketemu Gandi di lobby Senmul, naik ke 17, ketemu Gonata, Jayanti,
Rini. “Elin mana?” tanyaku. “Dibawah, lagi sarapan,” kata Jayanti.
Siip.
Nah, Farhan nelpon. Katanya dia harus ngantar istri tercinta ke RSPI
dulu karena batuknya gak sembuh-sembuh juga udah dua minggu ini. Jadi
mungkin agak telat nyampe ke cikeretegnya. Ok deh. Moga batuknya gak
parah ya. Cepat sembuh, Amy. Amin.
Junrial sms, udah di belakang senmul, katanya. Ok deh. Ayo kita turuuuun.
Adduh, tapi lapar juga ya. Belum sarapan nih. Dasar!!! Kebetulan Gandi
nawarin minum teh botol, siapa nolak!!! Sekalian aja aku pesan soto
ayam tanpa nasi, sambil nungguin Sari yang udah start dari kantornya
di gedung Aspac.
Nah, itu Sari. Udah? Udah ngumpul semua? Gak ada yang ketinggalan?
Intan, Gandi, Junrial, Jayanti, Rini, Gonata, Sari, Elin, yup, 8
orang. Ayuh, jalan.

10.00 ­ 12.00
meluncurlah kami ke cikereteg dengan mobilnya Sari dan Gandi,
berhenti sebentar di dekat TMII, Gandi beli tahu. Wuah, enak bener
tahunya. Alhamdulillah jalanan lancar, mulai agak macet hanya
menjelang cikereteg (akhirnya gue tahu juga gimana nulis cikereteg
yang benar, tanpa u, pakai g, bukan k). Sepanjang jalan kita hahahihi
ngobrol ngalor ngidul. Gak puas Cuma ngobrol semobil, kita sms-an
antar mobil menceritakan kelucuan yang terjadi di masing-masing mobil,
hehehehe. Sampe akhirnya ada yang nyeletuk, “Jangan-jangan udah
kelewatan nih, pasar cikeretegnya”. Wah, iya ya. Keasyikan ngobrol
sih. Berhenti deh. Nanya deh. Bener deh. kelewatan deh. Muter deh.
Balik deh. Untungnya belum jauh. Ketemu pasarnya, dekat AlfaMart,
belok kanan. Masuk Desa Pancawati. Sekarang lebih konsen merhatiin
jalan. Nyari-nyari vila yang namanya Pondok Safa-Marwa. Lumayan juga,
banyak vila disini ya. Pemandangannya bagus. Hijauuuuuu!
Nah, itu dia, sebelah kiri jalan. Pondok Safa. Alhamdullillah, ketemu.
Kali ini gak pake acara kelewatan deh. Sari turun membukakakan
gerbang. Mobil masuk. Waaaah, bagus sekali. Halamannya memanjang
dengan pepohonan di kiri kanannya. Langsung aja, ambil kamera,
foto-foto. Asyiiik.
Kita disambut ama penjaga villanya. Namanya Mang Kus (kalo gak salah,
hihihihi, pelupa sih gue). Nurunin tangga, ketemu tiga villa yang ok
punya. Wah, kita yang mana ya? Mang Kus bilang, “yang ini Neng, “.
Yang tengah. Udah dibukain pintunya. Asyiiik. Villanya bagus, berbahan
kayu. Kamarnya dua, gedhe-gedhe dengan kamar mandi yang besar
berinterior alami di masing-masing kamar dan di dekat dapur. Ruang
serba gunanya gedhe banget, ada dua set kursi duduk, satu set kursi
makan dan di sudut yang kosong dibentangkan karpet. Hm, ntar kita
lesehan di karpet aja ngajinya ya.
Ustadz Rusli dan Bu Heti belum datang. Kita nongkrong deh di teras
belakang, menikmati hijaunya pemandangan, ngabisin tahunya Gandi,
beragam biskuit, sambil ngobrol en tentu saja, foto-foto lagi, hehehe.
Di atas ada teras juga rupanya. Juga disamping. Hmmm…

12.30 ­ 13.30
Ust. Rusli datang bersama Bu Heti dan dua teteh yang bakalan bantuin
masak. Aduh, lupa euy! Gak sempat kenalan ama mereka. Cuma sempat
kenal dengan anaknya aja, si Dewi, murid kelas I di SD Gratis Bantar
Gebang milik Yayasan Guru-nya Ust. Rusli dan Bu Heti. Ustadz Rusli
bergabung bersama kita di teras belakang. Diskusi makin seru, dari
masalah haid sampai inferior complex-nya masyarakat Islam, sampai
Sari mengingatkan bahwa kita belum sholat dhuhur. Wah..wah…ok deh.
Sementara kegiatan di belakang layar tetap berlangsung, yaitu
masak-masak buat makan siang.

14.00 ­ 16.00
makanan sudah siap, mari kita bersantap. Hmmm…. sedaaaap. Makasih Bu
heti, makasih Teteh, hehehehe. Kita milih makan di teras belakang,
lesehan dengan meja dari rotan. Baru tahu, kalo Sari ternyata gak
makan nasi. Waaaah…
selesai makan, kenyang, (ngantuuuk??? Hihihihi), kita mulailah
pengajian. Materi 1, dengan tema : Cinta adalah suatu Kemestian.
Tentu aja diramaikan dengan diskusi plus ketawa ketiwi, apalagi ada si
Adek Kita Rini Inul yang sering mengundang tawa dengan gayanya yang
menggemaskan (dan juga tarikan napasnya???hehehehe).

16.00 ­ 19.45
sholat Ashar berjamaah. imamnya Gandi ya? Lanjut dengan materi 2:
Cinta versus rasa memiliki. Mo tahu isinya? Moga ntar bisa dibikinin
summarynya yach! Ngaji selesai jam 17.30, menjelang maghrib. Mandi
deh. Maghrib berjamaah dimami Junrial. Abis sholat kita wirid bersama.
Selesai wirid,
makanan udah siap (makan lagiiii?). Ustadz Rusli nanya, mo makan dulu
ato sholat dulu? Semua milih sholat dulu. Gue sih setuju banget. Ayo
kita sholat dulu, biar nanti makannya khusuk. Lho?
Abis sholat, makan lagi, alhamdulillah. Enak banget sopnya, tempenya,
semuanya. Duuh, pengen nambah teyus, hehehehe. Andai bisa mabit
berminggu-minggu, barangkali aku bisa nambah berat badan nih.

19.45 ­ 23.30
Kita mulai deh materi 3: Ayat-ayat Cinta. Bukan ngebahas novel
Ayat-ayat cinta itu lho ya. Ustadz Rusli cuma pengen bilang, kalo
AlQur’an ini bukan Ayat-ayat syetan seperti yang dikatakan oleh Salman
Rushdi, melainkan ayat-ayat cinta, surat cinta Allah kepada hambanya.
Dan memang, kita menemukan begitu banyak ungkapan cinta Allah kepada
kita manusia. Subhanallah. jadi malu sama Allah.
“Ada yang mau kopi?” kata Gandi. Langsung aja gue angkat tangan.
Mauuuu. Termasuk Rini, Jayanti, Bu Heti. Hmmmm, enaknya, minum kopi di
malam dingin. Jadi segar rasanya, ngantuk tak berani mendekat, apalagi
nangkring di mata. makasih Gandi, makasih Jayanti.
Ditambah lagi, Farhan datang. Bawa jeruk, bawa apel, tambahan kopi,
indomie, dan makanan lain. Sueeeenaaaangnyaaaaa…
Walo materi udah berakhir, diskusi tetap jalan. Santai tapi berbobot,
ceria tapi serius, sampai bu Heti menyarankan agar kita sebaiknya
tidur, supaya nanti segar waktu bangun untuk sholat tahajud. Bener
juga. Ok deh ibu. Tidur yuuuk…

23.30 ­ 03.15
tidur dengan suksesnya!!!

Ahad, 26 Juni 2005
03.15 ­ 05.30
Aku terbangun dengar jayanti bilang, “Kak Intan, sholat tahajud.”
Kaget lihat Sari udah rapi dengan mukenanya, apalagi sayup-sayup
dengar ada yang baca Qur’an. Haah, gue terlambat bangun nih?
“Sholatnya udah mulai ya?” tanyaku. “Udah kayaknya,” kata Sari sambil
bergegas. Wah, aku langsung lompat dari tempat tidur sambil bangunin
Rini. Buru-buru ke kamar mandi dan berwudhu. Buru-buru pakai mukena
dan segera ke ruang serbaguna. Eh, ternyata… sholatnya belum mulai.
Lantunan ayat yang kudengar tadi rupanya suara Elin yang mengaji,
membaca qur’an. Lega deh. Gue belum telat.

Setelah siap semuanya, barulah kita sholat tahajud berjamaah 8 rakaat
dengan witir 3 rakaat. Mencoba mendekatkan diri pada Allah, semoga
bisa istiqomah berusaha melakukan hal-hal yang akan membuat kita
pantas untuk dicintai olehNya. Memuji, memohon, meminta, menghamba
padaNya. Sungguh beda rasanya. Sekilas aku teringat dengan sekian
banyak sholatku yang dilakukan dalam suasana terburu-buru. Tuhan,
ampuni aku, ampuni kami, cintai Kami, tuntun kami meraih RahmatMu,
amin.

Subuh datang. Kami sholat bersama dalam suasana yang belum berubah.
Damai. Ingin selalu damai, seperti ini…

05.30 ­ 10.00
Pagiiiii
Ternyata bisa juga ya gue, gak tidur lagi abis subuh, hehehe.
Again, diskusi di meja makan, dari masalah cinta, poligami ampe…,
wah, banyak deh, termasuk Farhan yang bilangin kita agar cepat-cepat
merit. wah, pengantin baru nih ya.
Sarapan dengan mie goreng, telur, nugget yang dibawa Farhan semalam,
uenak tennan. Berkahi makanan kami ya Allah.
Nah, ini nih. Begitu mentari gak malu-malu lagi, kita juga gak
malu-malu telanjang kaki alias nyeker Menn! Menuruni jalan di belakang
villa. Awalnya ada tangganya sih, tapi tetap harus hati-hati, agak
licin soalnya. Foto lagiiiii. Ketemu dua kolam renang, tapi gak ada
yang minat untuk berenang ya? Hehehehe. Ya udah, lanjut lagi
perjalanan. Ketemu sungai, nyebrang deh. Untung dalamnya cuma sebetis
dengan lebar sekita dua meter. Foto lagi. Waaaah, sawah!!! Ketemu Mang
Kus yang lagi nanam padi. Ayo Mang, senyun dulu, kita fotoin. Jepret!
Yup, jadi deh. Manis nian senyumnya.

Dengan hati-hati kita jalan di sepanjang pematang sawah. Hati-hati
biar gak terpeleset, hati-hati biar gak salah menginjak padi. Mau
kemana kita? Menuju air terjun bo! Nah, itu dia! Langsung aja pada
ngambil posisi, foto lagi, foto lagi. Tapi Junrial mana ya? Oh, lebih
tertarik ngobrol ama pak tani rupanya.
Puas deh. Senang deh. Balik deh, ke Villa. Melalui jalan yang sama.
Menyusuri pematang sawah, menuruni dan menyebrangi sungai, kolam
renang, tangga yang memutar. Foto-foto lagi di halaman villa, di
tangga teras villa, cuci kaki, masuk villa, dan nonton foto-foto di
kameranya Farhan yang didisplay di TV. Bagus banget fotonya. pada gaya
abis! Lucu-lucu, hehehehe.

The last episode, kita diskusi tentang Laa Tahzan. Laa Tahzan kemarin,
Laa Tahzan sekarang, Laa Tahzan mendatang. Beberapa ide muncul demi
kebaikan Laa Tahzan. Apakah itu? Ntar dirilis ama teman yang lain ya.
Ehem, tapi saya bocorin satu deh, Mabit berikutnya kita rencanakan
September, menjelang Ramadhan, Insya Allah. So, arrange your schedule,
guys.

Tiba saatnya untuk pulang. Salam-salaman. Makasih Ustadz Rusli,
makasih Bu Heti, udah membimbing kami. makasih juga buat Bu Rini dan
dr. Dedi yang udah minjamin villanya gruaaatissss. Makasih Sari,
makasih Gonata, makasih jayanti, udah ngurusin mabit kali ini. Makasih
Farhan, tuk dukungan semangatnya. Makasih Junrial, Gandi, Elin, Rini,
for sharing a really great moment. En, of course, thank’s for all of
you, Laa Tahzan-ers. May Allah Bless you all, amin.

See U all friends, in the next Mabit. Don’t miss it!!!

Blog at WordPress.com.